Showing posts with label NADIRSYAH HOSEN. Show all posts
Showing posts with label NADIRSYAH HOSEN. Show all posts

Wednesday, 21 June 2017

Pelintirisasi Para Haters: dari cebok sampai liberal

Penulis : Nadirsyah Hosen
sumber : https://www.facebook.com/NadirsyahHosen/posts/1897989673782643

Berulangkali tulisan, ceramah maupun vlog saya dipelintir oleh para haters yang dasarnya adalah kebencian, dan ini yang menyebabkan mereka gagal paham. Saya ingin kasih 3 contoh saja:
Pertama, beberapa waktu lalu ada seorang ibu di sebuah pengajian di Australia yang menganggap saya mengatakan membaca al-Qur'an itu tidak penting buat mahasiswa. Tentu saja ini tuduhan serius. Saya mengasuh majelis khataman al-Qur'an setiap bulan sejak tahun 2005 di Brisbane, kemudian di kota Wollongong dan sekarang di Melbourne. Selepas khataman Qur'an saya lanjutkan dengan pengajian tafsir. Pesertanya mahasiswa dan juga masyarakat umum. Jadi bagaimana mungkin saya dianggap mengatakan membaca al-Qur!an itu tidak penting? Dua belas tahun saya mengajak kawan-kawan untuk khataman Qur'an setiap bulannya! Ini fakta yang terang benderang.
Ibu itu keliru memahami salah satu ceramah saya tentang melakukan prioritas amal. Saya sampaikan: kalau anda masih pelajar atau mahasiswa, maka amalan utama itu adakah belajar dan menyelesaikan sekolah anda dengan baik, bukan riyadhah amalan wirid, atau baca Qur'an seharian. Kalau anda seorang pengusaha, amalan prioritas buat anda itu banyak bersedekah, bukan malah duduk berzikir di masjid. Kalau anda seorang ulama, maka amalan utama itu ya berzikir dan mengaji. Sekarang ini kok semuanya mau jadi ulama? Lantas siapa yang akan menjadi ilmuwan dan menjadi pengusaha?
Apakah mereka dilarang melalukan ibadah sunnah di atas? Tentu tidak. Namun masing-masing punya amalan prioritas, sesuai amanah dan kondisinya. Kalau anda sedang dapat amanah menyeleaikan disertasi, maka selesaikan disertasi, bukan malah 'ngeles' dengan mengerjakan amalan lainnya. Belajar dan bekerja itu juga bagian dari ibadah.
Itu konteks pembicaraan saya. Berbeda jauh kan dengan pelintiran jamaah tersebut?
Kedua, saya menyampaikan di vlog saya: "apapun aliran anda, dan siapapun anda, mari kita berusaha untuk terus menjadi orang baik!" Ajakan yang simpatik ini justru dipersoalkan oleh sebagian mahasiswa UIN Pekanbaru. Ada yang bilang kalimat saya benar tapi bertujuan batil. Mereka mempertanyakan "baik menurut siapa?" Atau "mau mengarahkan kebaikan ke versi siapa? Versi liberal?" Ada yang bilang: "Inilah cara halus Nadirsyah Hosen menggiring orang masuk paham liberal!"
Saya terus terang bingung dengan reaksi mereka: mengajak berbuat baik saja kok dipelintir kesana-kemari yah? Dan apa hubungannya dengan liberal? Konteks ucapan saya adalah: Ada Muslim yang berbuat baik. Ada pula yang tidak berbuat baik. Begitu juga dengan pemeluk agama lain. Maka mari kita semua, apapun agama kita, berusaha untuk terus berbuat baik. Kalau anda Muslim, jaidlah Muslim yang baik. kalau anda Hindu, jadilah orang Hindu yang baik. Kalau anda orang Indonesia, jadilah warga negara yang baik. Begitu seterusnya. Berbuat baiklah kepada sesama, siapapun anda, dan siapapun mereka. Begitu sulitkah memahami konsep berbuat baik ini sampai harus dipelintir kesana kemari?
Ketiga, beberapa waktu lalu ada yang yakin saya pasti masuk neraka karena saya dianggap menghina Nabi Muhammad. Apa pasal? Saya mentwit bahwa "Yg ngotot mau Islam murni spt jaman Rasul ada baiknya introspeksi diri: dulu Rasul cebok pakai batu, ente mau gitu juga sekarang? Mikirr"
Sejumlah pihak menuduh saya menghina Nabi karena mengatakan Nabi cebok dengan batu. Kemudian digoreng dan dipelintir sedemikian rupa twit saya dan dikepcer disebar kemana-mana. Konteks pembicaraan tidak mereka pahami dan tidak diikutsertakan dalam twit saya yang dikepcer itu. Buat sebagian pihak yang penting mereka bisa membunuh karakter saya; masalah konteks dan kebenaran isi twit mereka gak peduli. Entah mereka belajar akhlak Islam dimana yah?
Konteks kicauan saya di twitter itu adalah soal sebagian pihak yang ingin 100% praktek Islamnya seperti jaman Rasul tanpa memilah mana yang memang wajib kita ikuti dan mana yang berupa anjuran dan mana yang kita bisa modifikasi sesuai perkembangan jaman. Untuk mereka itulah saya ingatkan bahwa di jaman Nabi beliau SAW cebok dengan 3 batu. Kalau kita tidak paham ilmunya dan hanya mau mengikuti apapun yang Rasul perbuat ya silakan sekarang mereka cebok dengan 3 batu.
Tapi kan sekarang air banyak? Jaman Nabi air susah? Exactly this is my point. Berarti anda sudah memikirkan perbedaan situasi dan kondisi. Hal ini yang sering ditolak oleh mereka yang menganut paham Islam murni: mereka tidak peduli dengan perbedaan situasi. Nah, twit saya itu meminta mereka berpikir dengan memberi contoh yang praktis. Mungkin mereka kaget dengan contoh praktis yang menohok ini. Karena gak bisa bantah, akhirnya marah-marah dan fitnah sana-sini.
Lantas kenapa saya dianggap menghina Rasul dengan mengatakan Rasul dulu cebok dengan 3 batu. Ada yang menganggap kata cebok tidak pantas. Anda buka Kamus sajalah, istinja itu diterjemahkan sebagai cebok. Jadi kalau istinja karena bahasa Arab dianggap sopan, tapi kalau pakai bahasa Indonesia cebok dianggap gak sopan? Sebagian lagi ternyata menganggap saya berbohong bahwa Nabi pernah cebok (maaf, istinja yah?) dengan batu. Ini penghinaan, kata mereka. Tidak benar Nabi pernah cebok dengan batu. Nadirsyah Hosen mengarang cerita untuk menyesatkan umat dan menistakan Nabi!
Ternyata kawan-kawan kita itu belum pernah belajar bab istinja (cebok). Mereka tidak tahu sekian banyak Hadis Nabi yang shahih menceritakan Nabi pernah cebok dengan batu dan pernah juga dengan air. Masalah ini dibahas oleh kitab fiqh dengan detil. Yang pernah belajar di madrasah pasti paham. Jadi, sekali lagi, dimana menghinanya? Kok dipelintir kesana kemari: sampai yakin sekali saya bakal masuk api neraka?
Kalau gitu kita ngaji bab cebok dulu deh dari kitab fiqh, al-Umm karya Imam Syafi'i --biar pada ngeh bahwa saya tidak mengada-ngada, apalagi menghina Nabi. Berani antum bilang Imam Syafi'i bohong dan menghina Nabi karena membahas Nabi cebok dengan batu?
Ayo ngaji duluuuuu
Bab Istinja (cebok)
Dari kitab al-Umm karangan Imam Syafi'i
‎أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -
‎ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «إنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ فَإِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إلَى الْغَائِطِ فَلَا يَسْتَقْبِلُ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرُهَا بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلْيَسْتَنْجِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ» وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ وَأَنْ يَسْتَنْجِيَ الرَّجُلُ بِيَمِينِهِ.
‎أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو وَجْزَةَ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ فِي الِاسْتِنْجَاءِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالرِّمَّةِ وَأَنْ يَسْتَنْجِيَ الرَّجُلُ بِيَمِينِهِ وَالثَّلَاثَةُ الْأَحْجَارُ لَيْسَ فِيهِنَّ رَجِيعٌ (قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَمَنْ تَخَلَّى أَوْ بَالَ لَمْ يُجْزِهِ إلَّا أَنْ يَتَمَسَّحَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ أَوْ آجُرَّاتٍ أَوْ مَقَابِسَ أَوْ مَا كَانَ طَاهِرًا نَظِيفًا مِمَّا أَنْقَى نَقَاءَ الْحِجَارَةِ إذَا كَانَ مِثْلَ التُّرَابِ وَالْحَشِيشِ وَالْخَزَفِ وَغَيْرِهَا.
‎(قَالَ) : وَإِنْ وَجَدَ حَجَرًا أَوْ آجُرَّةً أَوْ صِوَانَةً لَهَا بِثَلَاثِ وُجُوهٍ
‎فَامْتَسَحَ بِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا امْتِسَاحَةً كَانَتْ كَثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ امْتَسَحَ بِهَا فَإِنْ امْتَسَحَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَعَلِمَ أَنَّهُ أَبْقَى أَثَرًا لَمْ يُجْزِهِ إلَّا أَنْ يَأْتِيَ مِنْ الِامْتِسَاحِ عَلَى مَا يَرَى أَنَّهُ لَمْ يُبْقِ أَثَرًا قَائِمًا
‎ فَأَمَّا أَثَرٌ لَاصِقٌ لَا يُخْرِجُهُ إلَّا الْمَاءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ إنْقَاؤُهُ؛ لِأَنَّهُ لَوْ جَهِدَ لَمْ يُنَقِّهِ بِغَيْرِ مَاءٍ.
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku bagaikan bapak kalian, (maka aku beritahukan) jika kalian hendak membuang hajat janganlah menghadap kiblat dan tidak pula membelakanginya baik buang air besar atau kecil, dan hendaklah kamu cebok dengan tiga batu". Dalam riwayat lain disebutkan, "saat cebok, pakailah 3 batu, dilarang pakai kotoran hewan, atau tulang dan jangan pula cebok menggunakan tangan kanan".
Berkata Imam Syafi'i: "sesiapa yang buang air besar atau kecil maka cukup baginya mengusap dengan tiga batu tiga kali, bisa pakai batu bata, kayu bakar, atau barang yang suci dan bersih yang bisa membersihkan seperti tanah, rumput, tembikar dan yang lainnya. Dan jika ia menemukan sebuah batu yang memiliki tiga sisi lalu mengusap dengan masing-masing sisi maka itu sama dengan tiga batu. Tapi kalau masih ada bekas kotorannya, maka itu tidak cukup kecuali mengusapnya kembali hingga bersih tak terlihat kotorannya lagi. Kalau bekas kotoran itu tidak bisa hilang kecuali dengan air, maka harus dibersihkan dengan air."
Demikian klarifikasi saya terhadap tiga kasus pelintirisasi. Masih banyak sebenarnya ucapan atau tulisan saya yang dipelintir. Bahkan ada pula yang menganggap saya berkata sesuatu dan memaki-maki saya karena ucapan itu, padahal saya tidak pernah bicara demikian. Kenapa anda tidak tabayun saja sih? Kebencian itu merusak kebeningan hati dan kejernihan akal pikiran.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Friday, 16 June 2017

Tragedi Abdullah bin Zubair dalam Perebutan Khalifah

Penulis : Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Sesama Muslim itu bersaudara. Tidak mungkin sesama umat Islam akan rebutan jabatan khalifah, apalagi institusi khilafah itu diklaim bagian dari ajaran Islam yang sempurna dan pasti benar. Sayang, kenyataannya tidak demikian. Islam tentu diyakini kebenarannya, namun khilafah adalah institusi politik yang tidak selalu bersih dan suci dari perebutan kekuasaan.
Simak kisah pertarungan kekuasaan antara Khalifah Abdullah bin Zubair dan Khalifah Abdul Malik bin Marwan dalam lanjutan ngaji sejarah politik Islam di Geotimes.co.id
Saya sudah ceritakan dalam tulisan sebelumnya, Perseteruan Khalifah, Khalifah Marwan bin Hakam meninggal dan digantikan anaknya, Abdul Malik. Imam Suyuthi bertahan dengan pendapatnya bahwa yang sah itu adalah kekhilafahan yang dipimpin oleh Khalifah Abdullah bin Zubair. Sementara Muawiyah II dan Marwan tidak sah, karena dibai’at belakangan–kalah cepat dengan pembai’atan Abdullah bin Zubair.
Lalu, bagaimana dengan Abdul Malik bin Marwan? Imam Suyuthi, masih dalam kitabnya,Tarikh al-Khulafa, konsisten menganggap Abdul Malik juga tidak sah selama masih berkuasanya Abdullah bin Zubair. Baru setelah Abdullah bin Zubair wafat, maka Imam Suyuthi menganggap masa kekuasaan yang sah dari Khalifah Abdul Malik baru dihitung.
Kalau kita ikuti pendapat Imam Suyuthi ini, maka ada masa sekitar 7 tahun dari
kekuasaan Abdul Malik yang tidak dianggap sah. Abdullah bin Zubair dibai’at tahun 683 dan wafat tahun 692 (9 tahun berkuasa). Sedangkan Abdul Malik diba’iat tahun 685 dan meninggal tahun 705 (20 tahun berkuasa).
Imam Suyuthi secara apa adanya menjelaskan kualitas pribadi Abdul Malik sebelum dan sesudah dia menjadi khalifah. Sebelum menjadi khalifah, Abdul Malik banyak meriwayatkan hadis dan diakui banyak kalangan sebagai salah satu rujukan dalam memecahkan persoalan keagamaan. Kealimannya tersiar luas sebagai orang yang banyak puasa dan salat di masjid serta pecinta al-Qur’an, bahkan dia termasuk yang
menentang ketika Khalifah Yazid mengirim pasukan ke Mekkah memerangi Abdullah bin Zubair.
Ketika Marwan, ayah Abdul Malik, dulu diba’iat menjadi Khalifah, ada perjanjian dengan para syarif di Yaman dan tokoh senior Bani Umayyah bahwa yang menggantikan Marwan nantinya adalah Khalid bin Yazid (saudara tiri Khalifah Muawiyah II yang baru mangkat saat itu), dan setelahnya akan berkuasa Amr bin Sa’id bin al-Ash al-Ashdaq. Namun, Marwan menciderai perjanjian itu, dengan mengangkat putranya sendiri, Abdul Malik, dan kemudian di urutan berikutnya ditentukan pula sebagai khalifah adalah putranya yang lain, yaitu Abdul Azis.
Seperti bisa kita lihat kisah penodaan perjanjian antara Muawiyah dan Sayyidina Hasan terulang kembali di sini. Bukan cuma itu, kisah wafatnya Sayyidina Hasan karena ulah istrinya juga terulang kembali di sini. Demikianlah kekuasaan dan perempuan menjadi bumbu yang menggiurkan, tak terkecuali di masa khilafah.
Imam Thabari dalam kitab Tarikh-nya berkisah bagaimana Marwan, yang khawatir dengan Khalid bin Yazid bakal menggantikan posisinya sesuai perjanjian sebelumnya, mendapat nasihat agar menikahi janda Khalifah Yazid yang tak lain ibunya Khalid. Marwan mengikuti saran itu dan Khalid menjadi anak tirinya sehingga bisa dia kontrol pergerakannya.
Namun Marwan bertindak lebih jauh, dia membunuh karakter Khalid bin Yazid di depan banyak orang dengan mencemooh: “Aku tidak pernah melihat orang lain sebodoh dia!” Khalid tersinggung dan melapor ke ibunya. Ibunya menyuruh Khalid diam dan menyerahkan urusan ini di tangannya.
Maka, suatu malam di saat Marwan tengah tidur, ibu Khalid (yang merupakan salah satu istri Marwan) mendekap Marwan dengan bantal hingga kemudian meninggal. Ini terjadi di bulan Ramadhan tahun 685. Begitulah penuturan Imam Thabari, seorang ahli tafsir, fiqh, dan sejarah yang diakui otoritasnya oleh dunia islam.
Imam Suyuthi menceritakan riwayat dari Ibnu Aisyah bahwa Abdul Malik berada di masjid dan tengah membaca al-Qur’an ketika berita ayahnya, Marwan, wafat. Itu artinya Abdul Malik akan menggantikan ayahnya sebagai khalifah. Abdul Malik menutup mushaf al-Qur’an seraya berpamitan: “Ini masa terakhir untukmu”.
Berdasarkan riwayat inilah kita bisa memahami bagaimana sejak menjadi Khalifah, Abdul Malik berubah total. Dari seorang alim pecinta al-Qur’an menjadi politikus yang tindak-tanduknya tidak lagi mengikuti petunjuk al-Qur’an. Misalnya, Imam Thabari dan Imam Suyuthi melaporkan Abdul Malik membunuh rivalnya, Amr bin Said bin al-Ash al-Ashdaq, yang di bagian atas sudah saya sebutkan seharusnya menjadi khalifah
pengganti Marwan.
Rivalnya yang lain, Khalid bin Yazid, dibiarkan hidup karena mundur dari dunia politik dan memilih menjadi ahli kimia.
Abdul Malik diriwayatkan juga mengakui bahwa dia meminum khamr setelah ibadah. Abdul Malik juga yang mengirim al-Hajjaj bin Yusuf memerangi Abdullah bin Zubair hingga sahabat Nabi ini wafat dengan  tragis. Kekejaman Hajjaj di bawah komando Khalifah Abdul Malik sudah sangat melegenda dan tercatat dalam literatur keislaman.
Abdullah bin Zubair dikenal kealimannya sejak di masa Nabi. Setelah wafatnya Sayyidina Husain di Karbala dan wafatnya Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair dibai’at oleh penduduk Mekkah sebagai Khalifah. Pertarungan perebutan khalifah ini berujung pada kekalahan Abdullah bin Zubair dan berjayanya Dinasti Umayyah.
Atas perintah Abdul Malik, al-Hajjaj berangkat dengan dua ribu pasukan mengepung Mekkah. Masih belum berhasil. Maka dating lagi bala bantuan lima ribu pasukan membantu Hajjaj. Mereka berhasil menduduki kota Thaif. Lantas mengalahkan pasukan Abdullah bin Zubair yang menyingkir.
Tiba musim haji dan Hajjaj memimpin sebagai amirul haj. Namun beliau tidak ikut thawaf dan tidak mengenakan pakaian ihram. Dia membawa pedang dan memakai baju besi. Abdullah bin Zubair tidak bisa berhaji karena tidak bisa masuk ke padang Arafah yang dikuasai Hajjaj.
Peperangan terjadi 6 bulan. Selama pengepungan itu, kota Mekkah dan juga Ka’bah dilaporkan menjadi terbakar akibat panah-panah api yang dilepaskan pasukan Hajjaj. Imam Thabari melaporkan tiba-tiba langit menggelegar dan kilat menyambar seolah melindungi Hajar Aswad dari serangan api panah pasukan Hajjaj.
Pasukan Hajjaj menjadi ragu, namun panglima Hajjaj terus memerintahkan mereka menyerang. Kiswah Ka’bah mulai terbakar, setelah itu kilat menyambar 12 pasukan Hajjaj yang mati seketika. Hajjaj meminta pasukannya untuk tidak mundur, meski banyak yang ragu melihat langit seolah melindungi Ka’bah.
Keesokan harinya ada berita kilat menyambar di sekitar Ka’bah dan kali ini sejumlah pasukan Abdullah bin Zubair terkena. Hajjaj yang mendapat laporan peristiwa itu segera bangkit dan berkata kepada pasukannya: “Lihat mereka kena sambar kilat. Kita dalam keadaan yang benar; dan mereka yang durhaka!” Ternyata sejak dahulu banyak yang mengklaim kebenaran seenaknya sendiri.
Melihat betapa perkasanya pasukan al-Hajjaj, sejumlah sahabat dan penduduk Mekkah mulai meninggalkan loyalitas mereka terhadap Abdullah bin Zubair dan bergabung kepada al-Hajjaj. Imam Thabari melaporkan 10 ribu penduduk Mekkah pindah mendukung Hajjaj, termasuk kedua anak Abdullah bin Zubair, yaitu Hamzah dan Khubayb.
Abdullah bin Zubair pergi menemui ibunya, Asma’ binti Abu Bakar, dan meminta saran. Asma’ yang merupakan putri khalifah pertama, Abu Bakar, meminta anaknya terus bertahan melawan. Abdullah bin Zubair mencium kening ibunya, dan kembai ke medan perang.
Imam Thabari meriwayatkan dengan lengkap dialog anak dan ibu ini. Mereka tahu bahwa hanya tinggal menunggu waktu saja Abdullah bin Zubair akan terbunuh. Sebuah
dialog perpisahan yang sangat mengharukan. Dilaporkan bahwa kemudian Abdullah bin Zubair dibunuh oleh pasukan al-Hajjaj dengan cara kepalanya dipenggal dan tubuhnya disalib. Dan pasukan al-Hajjaj lantas berteriak mengumandangkan takbir.
Ibunya, Asma binti Abu Bakar, menyaksikan itu semua. Begitu juga dengan Abdullah bin Umar. Keduanya masing-masing adalah keturunan dua khalifah pertama dalam Islam: Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Mereka menyaksikan takbir disuarakan atas pembunuhan yang begitu kejam bertempat di tanah suci, kota Mekkah. Abdullah bin Zubair wafat saat usianya sekitar 68 tahun.
Sejarah politik kekhilafahan mengandung berbagai pengkhianatan, peperangan, perebutan kekuasaan hingga pembunuhan dan intrik-intrik politik. Ada yang berargumen bahwa sejarah demokrasi pun seperti itu. Benar, namun demokrasi tidak pernah mengklaim dirinya bagian dari ajaran kesempurnaan agama tertentu. Demokrasi dimulai dari ide manusia yang lemah dan banyak kekurangan namun kemudian belajar memperbaiki sistemnya dengan berkaca dari pengalaman sejarah.
Sistem khilafah kebalikannya: mengklaim sempurna karena dianggap bagian dari kesempurnaan ajaran Islam, tidak punya kelemahan, menjadi jawaban dari berbagai persoalan dan karena telah dianggap sempurna, maka tidak mau belajar dari kesalahan dan kekacauan yang terjadi.
Akibatnya, kita melihat demokrasi semakin lama semakin diperbaiki praktiknya; sedangkan sistem khilafah menutup diri dari perbaikan hingga akhirnya tumbang. Lakon khilafah selesai.
Maka, kita perlu terus ngaji sejarah politik Islam agar kita bersedia belajar dari kesalahan masa lalu dan terus berusaha membenahi kondisi umat. Itu hanya bisa kita lakukan jikalau kita mampu mengakui bahwa sistem pemerintahan khilafah itu tidak sempurna.
Bagaimana Anda bisa belajar dari kesalahan masa lalu kalau Anda merasa khilafah
adalah solusi umat? Solusinya saja bermasalah, kok!

Wednesday, 14 June 2017

Pamer Kedekatan dengan Tuhan

Ditulis Oleh : NADIRSYAH HOSEN
Sumber : https://www.facebook.com/NadirsyahHosen/posts/1891804967734447

Kalau anda merasa dekat dg pejabat atau artis boleh lah dipamerkan, tapi kedekatan dg Tuhan tdk utk dipamerkan. Kenapa? Begini penjelasannya.
Kedekatan dg sesama manusia itu hal yg wajar: bisa selfie, slg mention atau follbek. Pejabat, tokoh atau artis itu jg manusia, sama dg kita.
Relasi dg sesama via medsos itu fitrah kita selaku manusia utk slg mengenal, bekerjasama, dan silaturahmi, jd silakan ditunjukkan di publik.
Namu relasi dengan Tuhan itu berbeda. Tidak utk diumbar apalagi dipamerkan via medsos, mengapa demikian? Karena ini soal hati yg plg dalam.
Semakin dekat anda dengan Tuhan, semakin anda hendak merahasiakannya. Semakin merunduk dan semakin merendahkan diri serendah-rendahnya.
Kalau pejabat/artis butuh dukungan anda sbg konstituten atau fans, Tuhan tdk butuh anda sbg hamba apalagi kekasih. Kitalah yg membutuhkanNya.
Tuhan terlepas dari sebab akibat. Tuhan tidak dibebani kewajiban mengabulkan pinta hanya karena kita rajin beribadah.
Sejak kapan Tuhan bisa disogok oleh ibadah kita yg gak ada apa-apanya itu, atau oleh keluh kesah kita yg berisik itu? Tuhan bebas semau Dia.
kita tdk bisa mengklaim peristiwa ini dan itu terjadi karena doa dan ibadah kita, maka kita tdk bisa pamer terkabulnya doa kita di medsos.
Mengklaim terkabulnya doa atau pamer kedekatan dg Tuhan itu justru pagar keakuan diri yg bukannya kita hancurkan tp malah kita tinggikan.
Agama mengajarkan doa kebaikan, kita malah mendoakan org lain celaka di medsos. Agama mengajarkan kita menebar rahmat, bukan laknat.
Celakanya bukan saja pamer merasa dekat dg Tuhan, kita juga bersorak atas musibah org lain, seolah Allah mengazabnya. Tahu dari mana bro?
Tdk ada yg bisa memastikan musibah itu sbg cobaan atau azab. Tdk ada yg bisa memastikan sukses atau gagal itu akibat doa kita atau org lain.
Maka dibutuhkan kerendahan hati untuk mendekati Sang Maha Tinggi. Kita harus kosong dr keinginan agar hati kita dipenuhi oleh kehendakNya.
Siapa yang memelihara keinginannya, maka setan akan mengendarainya. Siapa yang berserah diri padaNya, maka Allah akan membimbingnya.
Siapa yang merasa dekat dg Tuhan, maka Tuhan akan menjauh darinya. Siapa yang merasa suci, maka sejatinya dia sangat kotor.
Semakin dekat kita dg Tuhan, akan semakin kita merasa kotor, bukan merasa suci; semakin merasa tdk layak, bukan malah pamer koar2 di medsos.
Yang merasa bertindak atas namaNya, akan dihinakanNya. Yang merasa hamba padaNya, akan diangkat ke tempat yang mulia.
Yang merasa bodoh, akan ditambahi ilmuNya. Yang merasa tahu segalanya, akan dipermalukanNya. Yang merasa faqir, akan diberi.
Sekali lagi, jebakan setan itu amat tipis. Kedekatan dg Tuhan tdk bisa dipamerkan. Itu rahasia antara kita dengan Tuhan.
Kalau anda pamer rahasia anda dg Tuhan, artinya anda tdk merasa cukup denganNya, anda seolah masih butuh pengakuan org lain.
Anda butuh pengakuan org lain bhw anda dekat dg tokoh ternama, maka anda pamerkan, tapi anda tdk boleh pamer kedekatan anda dg Tuhan.
Smg bulan puasa ini kita semakin menyembunyikan diri kita dlm peluk mesraNya. Puasa itu ibadah sunyi. Latihan merahasiakan hub kita dg Tuhan.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Baca juga : 

Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam


Tuesday, 13 June 2017

Kepatuhan Pada Hukum: Indahnya Ajaran Islam

Ditulis Oleh : NADIRSYAH HOSEN
Sumber : https://www.facebook.com/NadirsyahHosen/posts/1893299547584989

Islam datang menegakkan kembali hukum dan keadilan. Jika pembesar berbuat curang, maka ia harus dihukum. Semua sama di depan hukum. Nabi SAW bersabda: "jikalau seandainya Fatimah putriku mencuri, niscaya aku potong tangannya" (HR Bukhari-Muslim). Rusaknya tatanan hukum, bila hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
Tentu Fatimah az-Zahra tidak pernah mencuri. tapi pengandaian yang Nabi berikan itu menohok semua pihak. Nabi tidak akan melindungi keturunannya sendiri jikalau seandainya keturunan beliau, darah daging beliau, melakukan tindak kriminal.
Bahkan dikisahkan dalam kitab Subul al-Salam, keadilan dan persamaan hukum itu juga berlaku tak pandang bulu. Inilah salah satu kisah yang menggetarkan bagaimana ajaran Islam berdiri kokoh menopang keadilan dan asas persamaan di depan hukum sejak seribu empat ratus tahun yang lalu.
Suatu hari, Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya yang jatuh dari untanya. Beliau melihat baju itu di tangan seorang Yahudi. Beliaupun berseru kepada orang Yahudi itu: "Wahai, Fulan. Itu adalah baju besiku yang tempo hari jatuh dari untaku".
Orang Yahudi menjawab: "Ini baju besiku, karena sekarang ada di tanganku," tetapi orang Yahudi itu berkata lagi: "Sudahlah! Permasalahan ini biar diselesaikan oleh hakim saja." Lantas keduanya pergi ke Syuraih yang saat itu menjabat sebagai Qadhi/Hakim. Syuraih sendiri diangkat oleh Khalifah Ali. Tapi apa Syuraih langsung tunduk pada Khalifah dan memenangkannya? Tidak. Syuraih menempuh prosedur hukum acara yang sama.
Syuraih meminta Khalifah Ali mendatangkan dua orang saksi, maka beliau pun kemudian memanggil Qanbara (bekas budak beliau) bersama Hasan (putra beliau). Setelah didatangkan dua saksi, lantas Syuraih berkata: "Untuk saksi Qanbara, kami bisa menerimanya. Tetapi untuk saksi putra anda, kami tidak bisa menerimanya."
Sebagai seorang anak, tentu kecenderungannya adalah membela sang Ayah. Maka kesaksian Sayyidina Hasan tidak bisa diterima oleh Syuraih karena unsur kekerabatan. Saksi harus adil. Ini yang dipegang oleh Syuraih.
Khalifah Ali mencoba berargumen dengan mengatakan bahwa putranya Hasan adalah pemuka penduduk surga, sesuai Hadis dari Nabi yang didengar oleh Umar Bin Khattab. Bagaimana mungkin seorang seperti Sayyidina Hasan ditolak menjadi saksi? Syuraih tetap menolaknya karena bukan masalah surga-neraka yang merupakan urusan akherat, akan tetapi ini ada prosedur hukum yag harus ditempuh dan dikuti semua pihak yang berpekara, termasuk Khalifah sendiri.
Kealiman pribadi, hafal Qur'an, menyandang predikat keturunan Nabi, semuanya sama di depan hukum dengan seorang Yahudi. Yang menjadi ukuran adalah keadilan dan ketidakberpihakan saksi serta validitas bukti yang disodorkan dalam ruang pengadilan.
Satu saksi tidak bisa diterima, maka kalahlah Khalifah Ali. Karena saksi itu harus dua. Beliau tidak bisa membuktikan baju besi yang berada di tangan Yahudi itu miliknya. Siapa yang menuduh, dia yang harus membuktikan. Khalifah menuduh baju besi di tangan Yahudi milik sang khalifah. Ketika Khalifah gagal membuktikan tuduhannya, maka yahudi pun menang.
Apa Syuraih kemudian dipecat? Tidak. Apa Khalifah Ali menggerakkan aksi massa menuduh Hakim menistakan menantu Nabi dan melecehkan cucu Nabi karena menolak kesaksiannya? Tidak. Apa Khalifah Ali terus kabur ke negara lain? Tidak lah mas bro :)
Khalifah Ali menerima keputusan Hakim. Secara substansi beliau benar, namun secara prosedur hukum beliau tidak bisa membuktikannya, sehingga beliau kalah. Dan ini diterima oleh Khalifah.
ٍSingkat cerita, Yahudi ini terpesona dengan ajaran Islam yang menegakkan keadilan dan persamaan hukum. Yahudi tidak bisa membayangkan bagaimana seorang khalifah yang merupakan menantu Nabi, yang mendatangkan saksi seorang cucu Nabi, malah kalah di pengadilan. Walhasil Yahudi tersebut masuk islam, dan Khalifah Ali menghadiahkan baju besi miliknya yang sah itu kepada Yahudi. Yahudi yang sudah masuk Islam ini kelak ikut berjuang dan terbunuh di perang Shiffin. Kisah yang menggetarkan ini berakhir dengan indah.
Pesan moral dari Sabda Nabi soal putrinya, dan dari kisah Khalifah Ali sangat jelas: meskipun keluarga Nabi kalau berurusan dengan hukum semua diperlakukan sama dan harus mengikuti prosedur hukum. Datang ke Pengadilan, panggil saksi dan hadirkan bukti, lantas patuhi apapun keputusan Hakim.
Khalifah Ali tidak menantang Yahudi atau Hakim untuk melakukan mubahalah. Sang Khalifah mengajarkan satu hal penting: patuhi hukum. Inilah keindahan ajaran islam.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
ps.
1. Sabda Nabi Muhammad soal putri beliau diambil dari Sahih Bukhari 4/175:
3475 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المَرْأَةِ المَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا "
2. Kisah Khalifah Ali, Hakim Syuraih dan Yahudi diambil dari kitab Subul al-Salam, 4/125:
وعن عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما قال: "قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن الخصمين يقعدان بين يدي" الحاكم رواه أبو داود وصححه الحاكم وأخرجه أحمد والبيهقي كلهم من رواية مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير وفيه كلام قال أبو حاتم إنه كثير الغلط والحديث دليل على شرعية قعود الخصمين بين يدي الحاكم ويسوي بينهما في المجلس ما لم يكن أحدهما غير مسلم فإنه يرفع المسلم كما في قصة علي عليه السلام مع غريمه الذمي عند شريح وهي ما أخرجه أبو نعيم في الحلية بسنده قال وجد علي بن أبي طالب رضي الله تعالى عنه درعا له عند يهودي التقطها فعرفها فقال درعي سقطت عن جمل لي أورق فقال اليهودي درعي وفي يدي ثم قال اليهودي بيني وبينك قاضي المسلمين فأتوا شريحا فلما رأى عليا قد أقبل تحرف عن موضعه وجلس على فيه ثم قال علي لو كان خصمي من المسلمين لساويته في المجلس لكني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: "لا تساووهم في المجلس" وساق الحديث قال شريح ما تشاء يا أمير المؤمنين قال درعي سقط عن جمل لي أورق فالتقطها هذا اليهودي قال شريح ما تقول يا يهودي قال درعي وفي يدي قال شريح صدقت والله يا أمير المؤمنين إنها لدرعك ولكن لا يد لك من شاهدين فدعا قنبرا والحسن بن علي فشهدا إنه لدرعه فقال شريح أما شهادة مولاك فقد أجزناها وأما شهادة ابنك فلا نجيزها فقال عليه السلام ثكلتك أمك أما سمعت عمر بن الخطاب يقول قال رسول الله صلى الله عليه سلم: "الحسن و الحسين سيدا شباب أهل الجنة " قال اللهم نعم قال أفلا تجيز شهادة سيدي شباب أهل الجنة ثم قال لليهودي خذ الدرع فقال اليهودي أمير المؤمنين جاء معي إلى قاضي المسلمين فقضى لي ورضي صدقت والله يا أمير المؤمنين إنها لدرعك سقطت عن جمل لك التقطتها أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فوهبها له علي رضي الله عنه وأجازه بتسعمائة وَقُتِلَ مَعَهُ يَوْمَ صِفِّينَ

Perang Melawan ISIS dan Terorisme

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY Sumber :  http://news.liputan6.com/read/3004571/perang-melawan-isis-dan-terorisme?source=search Liput...