Showing posts with label PROF. SUMANTO AL QURTUBY. Show all posts
Showing posts with label PROF. SUMANTO AL QURTUBY. Show all posts

Thursday, 6 July 2017

Perang Melawan ISIS dan Terorisme

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : http://news.liputan6.com/read/3004571/perang-melawan-isis-dan-terorisme?source=search

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini dunia dikejutkan oleh serangan teror ganas di Iran yang menewaskan dan melukai puluhan orang (kabarnya 22 orang tewas dan lebih dari 50 orang luka-luka).

Ini adalah serangan teror mematikan pertama yang dilakukan ISIS (Islamic State of Syria and Iraq) di negeri Para Mullah itu.


Selama ini, milisi ISIS mengklaim hanya melakukan berbagai serangan terorisme (baik dengan senapan maupun bom bunuh diri) di Irak, Suriah, Pakistan, Afganistan, Arab Saudi, Yaman, Mesir, Lebanon, Turki, dan sejumlah negara Eropa.

Mereka belum pernah melakukan aksi terornya di Iran. Baru pada 7 Juni lalu mereka beraksi di negeri yang dulu bernama Persi ini.

Ada dua tim yang melakukan serangan teror tersebut. Tim pertama, terdiri dari 5 orang, menyerang Parlemen Iran (dengan menembakkan senapan).

Sedangkan tim kedua, terdiri dari 2 orang, meledakkan diri mereka di kompleks pusara Ayatullah Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.

Baik Parlemen maupun pusara Imam Khomeini ini, merupakan simbol politik-kultural- agama yang sangat penting bagi Iran.

Banyak spekulasi dan analisis yang bermunculan tentang serangan teror ini. Iran menuduh Saudi di balik aksi terorisme ini, tuduhan yang kemudian dibantah oleh pihak Saudi.

Beberapa saat setelah tragedi ini, ISIS mengklaim sebagai pelakunya. Menurut mereka, aksi ini sebagai "peringatan keras" kepada Iran yang selama ini mem-back-up milisi Syiah di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman, serta menjadi sponsor beberapa faksi radikal Syiah di sejumah negara yang dikontrol Sunni seperti Bahrain, Saudi, atau Qatar.

Ada juga yang menilai serangan ISIS ke Iran ini sebagai "aksi balas dendam" atas terdesaknya milisi ISIS di sejumlah kawasan di Irak dan Suriah.

Menariknya, menurut pihak otoritas Iran, empat dari lima pelaku serangan yang tertangkap dan kini dijadikan tersangka adalah warga negara Iran yang beretnis Kurdi, etnik terbesar ketiga di Iran setelah Persi dan Azerbaijan.

Menteri Urusan Intelijen Iran, Syed Mahmoud Alavi, menyatakan, mereka yang terlibat dalam aksi terorisme itu adalah anggota milisi ISIS di Irak.

Iran juga menangkap setidaknya 50 tersangka lain yang dicurigai terlibat di berbagai upaya terorisme di seantero Iran.

Pemerintah Iran, yang kini di bawah kepemimpinan Imam Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani, memfokuskan pada kelompok etnik Kurdi yang mendiami kawasan Barat Iran seperti Kordistan, Kermanshah, Azerbaijan Barat dan Ilam. Oleh warga Kurdi, kawasan ini dikenal dengan sebutan Rojhalat.

Menurut Marc Martinez dari The Delma Institue, sebuah lembaga riset di Uni Emirat Arab, warga Kurdi di Iran masih menaruh dendam kesumat dengan Teheran, karena upaya mereka mendirikan negara otonom Kurdi bernama Republik Mahabad di Iran Utara (dulu didirikan oleh Qazi Mohamed yang berkoalisi dengan Uni Soviet) digagalkan oleh Iran dengan batuan Amerika Serikat.

Sejak itu mereka melakukan berbagai upaya politik untuk mendelegitimasi otoritas pemerintah dan menggoyang keamanan dalam negeri Iran.

Seperti negara-negara lain pada umumnya, Iran yang juga negara sangat majemuk dari segi etnis, bahasa, dan agama, juga memiliki segudang problem masalah sosial, politik, budaya, agama, etnisitas, dsb.

Maka, bergabungnya milisi Kurdi Iran dengan ISIS memiliki tujuan politik internal, yakni pendongkelan kekuasaan di Iran. Dengan bergabung ke ISIS, setidaknya milisi Kurdi bisa belajar strategi dan taktik "mengacaukan" dan menggulingkan kekuasaan.

Jika upaya makar ini gagal,  terorisme adalan jalan lain untuk mendestabilisasi politik serta mengganggu keamanan dan kenyamaan rezim.

Bergabungnya sejumlah warga Kurdi Iran ke ISIS di Irak ini merupakan ironi, mengingat warga Kurdi Irak justru berjuang dan berperang melawan milisi ISIS.

***
Kasus terorisme yang terjadi di Iran ini adalah peringatan keras bagi negara mana saja, termasuk Indonesia yang sangat rawan terhadap infiltrasi ideologi asing dan transnasional.

Beberapa kali kasus terorisme di Indonesia yang diklaim dilakukan oleh simpatisan ISIS, menunjukkan bahwa gema pengaruh organisasi teror kelas wahid ini tidak hanya berhenti di kawasan Arab, Timur Tengah, atau Afrika Utara, tetapi juga sudah ke berbagai belahan dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara.

Terbukti ISIS sekarang juga bercokol di Mindanao, Filipina selatan, hingga Presiden Rodrigo Duterte mendeklarasikan Darurat Militer untuk kawasan ini setelah terjadi serangan teroris mematikan di Kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, yang menyebabkan banyak kematian dan arus migrasi berskala besar warga setempat.

Perang antara tentara Filipina dan para milisi teroris-separatis- jihadis lokal yang didukung ISIS pun tidak bisa terhindari. Kelompok milisi ini dikenal dengan sebutan Maute, yang diambil dari nama duo bersuadara: Umar Maute dan Abdullah Maute.
Maute adalah gerombolan teroris, preman, kriminal, dan milisi yang sering berbuat ulah di kawasan Mindanao.

Konon pemicu aksi "tragedi Marawi" ini adalah gagalnya penangkapan Isnilon Totoni Hapilon, pemimpin gang Maute. Isnilon Hapilon adalah mantan pentolan Abu Sayyaf Group (ASG), ormas teroris yang dulu memiliki afiliasi dengan Al-Qaedah, yang berbasis di Jolo dan Basilan, Kepulauan Sulu.

Para milisi dan teroris ASG ini dikenal luas sebagai pengebom bunuh diri dan penculik orang-orang bule (warga Barat), untuk dijadikan sebagai sandera guna mendapatkan uang tebusan.
ASG juga berafiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Islamiyah di Indonesia, yang melakukan serangkaian aksi pengeboman di Tanah Air (seperti kasus pengeboman Bali).
Kelompok didirikan oleh Abdurrajak Abu Bakar Janjalani, bekas milisi Mujahidin pada waktu terjadi perang antara Afganistan dan Uni Soviet sejak 1980-an.

Di sanalah ia bertemu dan kesengsem dengan pemimpin Mujahidin bernama Abdul Rasul Sayyaf, yang juga pendiri Islamic Union for the Liberation of Afghanistan.

Abdul Rasul Sayyaf kemudian menjadi mentor Abdurrajak Janjalani. Nah, nama "Abu Sayyaf Group" itu diambil dari nama Abdul Rasul Sayyaf ini.

Jika dulu ASG menjadi kaki-tangan Al-Qaedah, kini mereka menjadi pion-pion ISIS. Komandan Maute, Isnilon Hapilon, juga berikrar setia kepada ISIS dan pemimpinnya, Abu Bakar Al-Baghdadi.
Hal sama juga dilakukan oleh kelompok Islamis-teroris lain di Mindanao, seperti Bangsamoro Islamic Freedom Fighters (BIFF) dan Ansar Khalifah Philippines.
"Tragedi Marawi" ini mungkin adalah dampak dari gagalnya perundingan damai antara pemerintah dan Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Seperti di Iran, ISIS juga memanfaatkan "kelompok sempalan" anti-pemerintah di Filipina untuk menggoyang kekuasaan.

Potensi yang sama sangat mungkin akan terjadi di Indonesia, di mana ISIS akan memanfaatkan kelompok-kelompok anti pemerintah, khususnya kelompok Islamis, untuk menciptakan destabilitas, kekacauan, dan ketidakamanan publik.

Sejauh ini sudah ada beberapa warga Indonesia yang menjadi milisi ISIS di Irak maupun Suriah seperti Salim Mubarak Attamimi, warga Pasuruan, Jawa Timur, yang mengklaim sebagai "Panglima ISIS Indonesia", yang tewas di Irak pada 2014.

Sebagian masyarakat Muslim Indonesia yang cenderung berpikiran konservatif dan berpenampilan "Islami", tetapi tidak mengetahui tentang seluk-beluk pluralitas wacana keislaman serta miskin wawasan geopolitik di Arab dan Timur Tengah, menjadi "sasaran empuk" wacana Islam ekstrem, yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok radikal Islamis, termasuk jaringan global terorisme (tak terkecuali ISIS).

Jika ingin Indonesia ke dapan menjadi negara yang aman, toleran, damai, dan sentosa, maka pemerintah, militer, polisi, akademisi, tokoh agama, dan masyarakat pada umumnya harus bersatu bahu-membahu melawan ideologi jihadisme, radikalisme, dan terorisme yang mengancam kenyamanan publik dan stabilitas nasional ini.

Militer, khususnya, harus mewaspadai "jalur laut" yang selama ini menjadi arus keluar-masuk kelompok radikal dan teroris dari dan ke Mindanao. Kerja sama militer antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei untuk menjaga wilayah laut dari kemungkinan pelarian milisi ISIS di Mindanao harus terus digalakkan.

Wilayah Kepulauan Filipina adalah perbatasan dengan teritori Indonesia (misalnya Sulawesi) dan selama ini memang dijadikan sebagai arus hilir-mudik kelompok militan-ekstremis.
Penggabungan pendekatan militer dan non-militer menjadi kunci untuk memangkas gerakan terorisme dan ideologi jihadisme.

Pengamat terorisme David Cortright dan George Lopez, dalam Uniting Against Terror: Cooperative Nonmilitary Responses to the Global Terrorist Attack, menjelaskan pentingnya menggabungkan dua pendekatan dan strategi dalam melawan terorisme. Yaitu "tactical counterterrorism" dan "strategic counterterrorism".

Strategi dan metode "tactical counterterrorism" fokus pada "pendekatan militer". Misalnya operasi memburu kantong-kantong dan sel-sel terorisme seperti yang selama ini dilakukan oleh pihak kepolisian dan Densus 88.

Sedangkan "strategic counterterrorism" menekankan pada pendekatan, taktik, dan strategi non-militer seperti mendesain berbagai kebijakan publik dan program yang dimaksudkan, untuk menghilangkan faktor-faktor dan akar-akar yang selama ini menjadi penyubur gerakan dan ideologi terorisme.
David Cortright and George Lopez menulis, "Due to the global nature of the terrorist threat, cooperative nonmilitary responses are necessary elements of counter-terrorism strategy."

Pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat perlu menjalin kerja sama yang efektif-sinergis-produktif, guna mendesain program-program kontra-terorisme, baik yang "tactical counterterrorism" maupun "strategic counterterrorism" (khususnya di bidang ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, keagamaan, dsb), guna menanggulangi radikalisme dan terorisme global dan domestik yang bisa menghancurkan sendi-sendi kenegaraan dan kebangsaan di Indonesia tercinta.

Friday, 30 June 2017

Arab Tak Berarti Habib (19): Alawi Itu Bukan Syiah, Bukan Sunni

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158971398655523


Banyak kaum Muslim di Indonesia dan manca negara yang menganggap sekte Alawi di Suriah khususnya itu Syiah. Anggapan itu tidak benar. Atau, hanya "separuh benar" saja. Tidak benar benar benar.
Dari aspek teologi-keagamaan maupun sosial-kultural, Alawi berbeda dengan Syiah (juga Sunni). Dari aspek teologi, Alawi lebih dekat dengan Kristen karena sekte ini mengadopsi konsep "Trinitas" (Muhammad, Ali dan Salman al-Farisi). Dari aspek sosial-budaya, pengikut Alawi "lebih liberal" misalnya perempuan Alawi tidak berjilbab dan alkohol boleh dikonsumsi.
Persepsi bahwa Alawi itu bagian dari Syiah sebetulnya dibangun lantaran publik melihat hubungan dekat antara rezim Assad dan rezim Syiah Iran. Padahal, arus utama Syiah (yaitu Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah atau Syiah Imam Dua Belas) dalam sejarahnya tidak pernah mengakui sekte Alawi sebagai bagian dari Syiah.
Baru pada 1974, seorang klerik kharismatik Syiah Libanon, Musa Sadr, untuk pertama kalinya mau mengakui Alawi adalah bagian dari Syiah. Meski Imam Musa Sadr mengakuinya, publik Syiah (termasuk kalangan elit agama dan kaum terdidik) tidak mudah untuk menerima ke-Syiah-an Alawi.
Jangankan kepada pengikut sekte Alawi yang konsep teologi-budayanya sangat ekstrim, kepada pengikut sekte Zaidiyah (Zaidi) atau Ismailyah (Ismaili) yang tidak ekstrim-ekstrim amat saja, Syiah mainstream enggan mengakuinya secara tulus-ikhlas. Jika pengikut Syiah saja enggan mengakui Alawi sebagai "bagian integral" mereka, apalagi pengikut Sunni yang dalam konsep teologi tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan Alawi.
Perlu juga dicatat, pengikut sekte Alawi adalah etnik Arab sementara Syiah Iran adalah etnik Persi. Dalam sejarah, sejak zaman bahula hingga dewasa ini, sulit untuk mengakurkan Arab-Persi ini meskipun mereka satu agama (Islam) dan satu kawasan (Timur Tengah). Anda mungkin lama mengenal "Teluk Persi" tapi itu tidak ada dalam "peta Arab" karena mereka menyebutnya "Teluk Arab" tidak mau disebut Teluk Persi. Selain itu, sekte Alawi sangat nasionalis terhadap Suriah yang dulu di zaman kolonial Perancis pernah mempunyai negara independen: Negara Alawi.
Memang dari segi kebahasaan, Alawi berarti "pengikut Ali bin Abi Thalib", sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad yang, melalui pernikahannya dengan putri beliau, Fatimah az-Zahra, melahirkan Hasan-Hussein dan keturunannya termasuk kaum asyraf dan sadah. Dari sini bisa diklaim sebagai "Syiah" karena kata "Syiah" itu juga berarti "kelompok /partai pembela / pengikut Ali".
Tetapi dari konsep teologi, sekte Alawi berbeda dengan arus utama Syiah karena pengikut Alawi tidak mengakui Imam ke-12. Menurut mereka, setelah Imam ke-11 wafat, yaitu Imam Hassan bin Ali al-Askari, imam ke-12-nya adalah Muhammad bin Nusair, bukan Muhammad bin Hassan yang dikenal dengan sebutan "Imam Mahdi". Muhammad bin Nusair (hidup pada abad ke-9 M) inilah pendiri sekte Alawi sehingga sekte ini juga dikenal dengan sebutan "Nusairisme". Muhammad bin Nusair inilah yang pada awalnya mengembangkan konsep teologi Alawi yang mengadopsi Trinitas Kristen sehingga ada dugaan kuat bahwa Alawi ini sebetulnya adalah "the lost Christianity" di Timur Tengah.
Seperti apa kisah selanjutnya? Bagaimana sejarah sekte Alawi ini? Kenapa pengikut Nusairisme itu dianggap sebagai "pengikut Nasara atau Nasrani"? Siapa saja para pentolan teolog dan tokoh agamanya yang mengembangkan sekte Alawi ini? (bersambung).
Baca juga : 

Arab Tak Berarti Habib (18): Sekte Alawi di Suriah


Arab Tak Berarti Habib (18): Sekte Alawi di Suriah

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158966258755523?pnref=story

Banyak masyarakat, Muslim maupun non-Muslim, tidak paham tentang sekte Alawi dalam Islam. Sekte Alawi adalah kelompok minoritas agama di Suriah (sekitar 10%). Sebagian kecil pengikut sekte ini tinggal di Libanon dan Turki. Tetapi harap dicatat, sekte Alawi ini beda dengan kelompok Alevi di Turki.
Dari aspek agama, mayoritas penduduk Suriah (sekitar 18 juta) adalah Sunni, kemudian setelah itu ada Kristen, Alawi, Druze, Ismaili, Itsna Asy'ariyah, Yahudi, Yazidi, dlsb. Kelompok Alawi di Suriah kebanyakan mendiami Provinsi Latakia dan sebagian menyebar di Provinsi Homs, yang lain mendiami kota Damaskus dan Aleppo.
Meskipun minoritas, kelompok Alawi mengontrol jalannya politik-kekuasaan dan pemerintahan di Suriah yang sejak 2011 terlibat Perang Sipil ini. Hal itu terjadi karena pendiri Republik Arab Suriah modern, Hafez al-Assad, adalah dari sekte Alawi ini. Presiden Bashar al-Assad yang kini memerintah Suriah sejak tahun 2000 adalah putra Hafez al-Assad ini.
Sejak memimpin Suriah di awal 1970an, rezim al-Assad mengontrol politik dan pemerintahan dengan menunjuk para top birokrat, petinggi militer, dan komandan intelejen dari kalangan Alawi. Alasannya tentu saja untuk mengamankan jalannya roda pemerintahan, maka akan lebih baik menunjuk orang-orang yang bisa dipercaya tidak menjadi "Bruthus" di kemudian hari.
Meski demikian, bukan berarti kelompok Alawi tidak berpatron dengan Sunni dan kepentingan Sunni secara mutlak diabaikan begitu saja. Juga, bukan berarti masyarakat kecil pengikut Alawi hidup makmur sejahtera karena memiliki "rezim Alawi". Sama sekali bukan. Masalahnya tidak sesimpel yang kita bayangkan. Dunia itu tidak "hitam-putih" choy. Ingat itu.
Meskipun begitu, ketika Perang Sipil berkecamuk sejak 2011 yang membuat Suriah kini porak poranda, mayoritas pengikut Alawi membela sang rezim dengan bergabung di kelompok milisi Shabiha, National Defense Forces, dan grup paramilitary lain. Sementara sebagian pengikut Sunni bergabung ke kelompok oposisi seperti Jabhat Fatah al-Syam, Ahrar al-Syam, dlsb.
Kenapa pengikut Alawi membela Rezim Assad? Sebagian karena loyalitas kepada keluarga Assad, sebagian lain karena takut dan khawatir kalau rezim Sunni berkuasa, mereka akan menjadi target diskriminasi dan penindasan seperti yang mereka lakukan dalam sejarah kepolitikan Islam. Memang, selama berabad-abad, kelompok Alawi menjadi korban persekusi, prosekusi, diskriminasi, dan "si-si" lainnya karena mereka dituduh heretik dan dikafir-sesatkan baik oleh Sunni maupun oleh Syiah.
Lalu, seperti apakah sistem-kepercayaan Alawi itu? Apa perbedaan fundamental antara Alawi dengan arus utama Sunni maupun Syiah? Kenapa Sunni dan Syiah menyesatkan mereka? Kapan kelompok Alawi ini muncul? Bagaimana sejarahnya? Bersambung lagi deh. Capek ngetik bok he he
Baca juga : 

Arab Tak Berarti Habib (17): Republik Arab Suriah


Thursday, 22 June 2017

Arab Tak Berarti Habib (17): Republik Arab Suriah

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158961116575523

Syria atau Suriah (Bahasa Arab: Suriya) yang nama lengkapnya adalah Republik Arab Suriah (al-Jumhuriyah al-Arabiyyah al-Suriyah) adalah sebuah negara di Timur Tengah atau Asia Barat berpenduduk sekitar 18 juta. Negara ini berbatasan dengan Libanon, Turki, Irak, Yordania, dan Israel.

Dalam literatur Bahasa Inggris, nama Suriah ini sama dengan Levant yang dalam Bahasa Arab disebut a-Syam. Itulah sebabnya ISIS disebut juga ISIL (Islamic State of Iraq and Levant). Nama al-Syam itu sangat populer dalam tradisi Islam, dan memang Suriah merupakan salah satu kawasan klasik dan bersejarah tempat berbagai kerajaan dan empirium kuno membangun peradaban termasuk Kerajaan Ebla yang legendaris itu.

Damaskus dan Aleppo adalah dua di antara kota-kota kuno yang masih bertahan hingga sekarang. Di zaman Kekhalifahan Islam, Damaskus pernah menjadi ibukota Kerajaan Umayyah, kerajaan pertama dalam sejarah kepolitikan Islam. Kesultanan Mamluk di Mesir juga pernah menjadikan Damaskus sebagai kota provinsi yang penting.

Dalam sejarah Suriah modern telah bergonta-ganti nama. Dulu di zaman Turki Usmani, kawasan ini bernama Arab Levant. Kemudian setelah Turki Usmani rontok, kawasan ini bergonta-ganti nama: pada 1920 pernah bernama Kerajaan Arab Suriah, kemudian Negara Suriah (pada waktu di bawah mandat dan kontrol Perancis). Pernah juga bernama Republik Suriah yang dideklarasikan oleh negara-negara kecil bentukan Perancis: Negara Suriah, Negara Alawi, dan Negara Jabal Druze. Perancis memang sangat berperan dalam membentuk peta sosial-kultural-politik Suriah kontemporer seperti tampak dewasa ini.

Suriah merupakan salah satu kawasan yang sangat plural dan kompleks di Timur Tengah, baik dari aspek bahasa, agama, maupun kelompok etnik. Ada banyak suku bangsa yang tinggal di kawasan ini: Arab, Yunani, Armenia, Assyria, Kurdi, Turki, Mandea, Kirkasia, dlsb. Dari aspek kelompok agama juga sangat majemuk: Sunni, Kristen, Druze, Alawi, Ismaili, Mandean, Yahudi, Yazidi, dlsb. Dengan 10%, Kristen menempati agama minoritas-mayoritas di Suriah setelah Islam, lalu disusul Druze (Druizme). Ada banyak denominasi Kristen di Suriah, yang sebagian berkembang di Indonesia.

Banyak yang mengira Suriah adalah "negara Syiah". Itu adalah keliru besar. Mayoritas penduduk Suriah adalah Arab Sunni. Hanya saja, kekuasaan dikontrol oleh "Rezim Alawi" (keluarga al-Assad). Jadi, dalam konteks Suriah, "minoritas mengontrol mayoritas" seperti di Irak zaman Saddam Hussein dulu, dimana minoritas Arab Sunni mengontrol Syiah dan Kurdi.

Apakah Alawi itu Syiah? Tidak jelas. Dalam sejarahnya arus utama Syiah juga tidak mengakui Alawi sebagai bagian dari Syiah karena dipandang "sesat" dan menyimpang dari kanon resmi kesyiahan. Jangankan pada Alwawi, kepada para pengikut Syiah Zaidiyah dan Ismailiyah saja, Syiah Imamiyah atau Itsna Asyariyah sebagai Syiah mayoritas tidak mengakui otentisitas mereka. Orang-orang Alawi (berbeda dengan Alevi di Turki atau Ba Alawi di Yaman) sendiri lebih suka menyebutnya "Alawi" ketimbang Syiah.

Bagaimana kisah selanjutnya kenapa Alawi bisa menguasai pemerintahaan Suriah? Dan seperti apakah sebetulnya "jenis kelamin" dari sekte Alawi itu? (bersambung).
#RepublikArabSuriah
#ArabTakBerartiHabib

Friday, 16 June 2017

Masjid Bunda Maria di Uni Emirat Arab

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158930722250523?pnref=story

Belum lama ini, Sheikh Muhamed bin Zayid Al Nahyan, penguasa Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), mengeluarkan surat perintah untuk mengganti nama masjid megah "Masjid Sheikh Mohamed bin Zayid" (namanya sendiri) menjadi "Masjid Maria Ibu Yesus" (Maryam Umm 'Isa). Sejumlah tokoh agama Muslim & Kristen berfoto bersama di masjid tersebut (courtesy: Khaleej Times).
Penggantian nama ini dimaksudkan untuk menciptakan relasi sosial yang harmoni antar masyarakat agama di UEA yang memang sangat majemuk.
Menteri Negara Urusan Toleransi Sheikha Lubna sangat mengapresiasi pengubahan nama tersebut sebagai simbol toleransi dan koeksistensi damai antar-pemeluk agama, khususnya umat Kristen. Demikian pula sejumlah tokoh agama dan petinggi negara seperti Sheikh Mohammed bin Rasyid Al Maktoum dan Mohammed Matar Al Kaabi.
Sejumlah tokoh Kristen di UEA juga mengapresiasi sangat positif penamaan ini seperti Rev. Canon Andrew Thompson dari Gereja St. Andrew, tetangga Masjid Maria tersebut. Gerejanya dan juga gereja-gereja lain di UEA juga menyediakan acara buka puasa bersama untuk para pekerja Muslim migran.
Agama sebetulnya mengajarkan harmoni, kerukunan dan perdamaian yang sangat indah. Tapi sayang banyak pemeluknya yang justru terperangkap ke dalam lingkaran setan kekerasan, kebencian dan permusuhan.

Thursday, 15 June 2017

Pancasila Yes, Islamisme No

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Dosen Antropologi Budaya dan Direktur Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University dan pernah mendapat visiting fellowship dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan Kyoto University. Ia telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : http://www.dw.com/id/pancasila-yes-islamisme-no/a-39252094

Klaim bahwa “Negara Pancasila” sebagai konsep politik-pemerintahan dan ketatanegaraan yang tidak Islami dan jauh dari norma-norma dan nilai-nilai keislaman sebuah propaganda semata. Demikian opini Sumanto Al Qurtuby.

Belakangan santer bergema suara-suara yang ingin mengganti Ideologi Negara Pancasila dengan apa yang mereka klaim sebagai "Ideologi Islam”. Yang menggemakan penggantian Pancasila ini adalah sejumlah elit politik, tokoh agama, aktivis Muslim, dan ormas Islamis dari berbagai kelompok dan faksi keislaman, bukan hanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saja yang selama ini memang dikenal begitu semangat dan heroik hendak mengganti Pancasila, UUD 1945, dan aneka sistem hukum-politik-pemerintahan Republik Indonesia (RI) karena dipandang sebagai tidak Islami dan produk kebudayaan kafir-sekuler.
Khusus untuk HTI (sebagaimana doktrin Hizbut Tahrir), yang di Indonesia sudah dibubarkan oleh pemerintah (secara politik), kelompok ini "bernafsu” sekali mengubah seluruh bangunan politik-pemerintahan RI dengan "Negara Khilafah” yang menurut mereka diklaim sebagai lebih Islami dan "lebih syar'i”. 
Saya ingin menyebut kelompok ini sebagai "kaum Islamis”, yaitu kelompok yang berpegang teguh pada atau ingin memperjuangkan "filosofi” dan ideologi Islamisme. Islamisme adalah sebuah gerakan reformasi yang mengadvokasi penataan ulang tatanan, sistem, dan struktur pemerintah dan masyarakat sesuai dengan apa yang kaum Islamis klaim sebagai "aturan dan hukum Islam”.
Bassam Tibi, seorang ahli kajian Islam politik ternama di University of Gottingen, Jerman, dalamIslamism and Islam (2012) mendefinisikan "Islamisme” sebagai sebuah gerakan fundamentalis berbasis politik atau sebuah ideologi politik yang berdasar pada "a reinvented version of Islamic law”. Bagi Tibi, apa yang kaum Islamis klaim sebagai "aturan dan hukum Islam” mengenai tatanan politik-pemerintahan dan ketatanegaraan itu pada hakikatnya hanyalah sebuah pemahaman dan penafsiran ulang atas sejumlah teks, wacana, doktrin, dan norma kepolitikan dalam Islam atau penjabaran ulang tentang "fiqih politik” (fiqh al-siyasah) sesuai dengan perkembangan sosial-politik kontemporer.
 "Rekayasa sosial”  untuk politik
Dengan demikian Islamisme adalah sebuah "rekayasa sosial” kaum Islamis untuk menjadikan Islam semata-mata sebagai "organ politik”. Awalnya, ide dan gerakan ini sebagai reaksi atas kolonialisme Eropa dan imperialisme Barat tetapi dalam perkembangannya juga disebabkan oleh sejumlah faktor sosial-politik lokal (termasuk rezim politik Muslim yang berhaluan sekuler, liberal, sosialis, atau nasionalis) dimana kaum Islamis itu berasal atau berada. Pula, Islamisme bukan hanya berkembang di kalangan Sunni tetapi juga Syiah. Para tokoh, ideolog, dan pemikir utama ideologi Islamisme ini antara lain Abul A'la Maududi (w. 1979), Sayyid Qutb (w. 1966), Imam Khomeini (w. 1989), Muhammad Qutb (w. 2014), dlsb.
Jadi jelaslah bahwa Islamisme itu berbeda secara substansial dengan Islam yang merupakan sistem keimanan, agama, dan jalan hidup kaum Muslim yang mencakup sebuah aspek kehidupan umat manusia: sosial, intelektual, kultural, ritual, spirtiual, dlsb, bukan melulu masalah kepolitikan.
Islamisme juga berbeda dengan Salafisme, Wahabisme, Jihadisme, atau Fundamentalisme misalnya karena tidak semua ideologi dan gerakan ini berorientasi politik-kekuasaan. Banyak dari kelompok Salafi-konservatif ini (baik klasik maupun kontemporer) yang hanya bertujuan untuk melakukan "reformasi moral-kultural-teologikal-keagamaan” masyarakat saja, tidak memiliki keinginan, tujuan, dan tendensi politik praktis untuk mendirikan sebuah negara atau pemerintah dengan sistem politik berbasis Islam.
Karena karakter politik yang begitu kuat dalam Islamisme, maka sejumlah sarjana kadang-kadang menyamakan atau menyebut Islamisme dengan "Islam politik”. Lihat beberapa studi tentang ini, misalnya, Asef Bayat (Post-Islamism: The Changing Faces of Political Islam) atau Richard Martin dan Abbas Barzegar (Islamism: Contested Perspectives on Political Islam).
Mengatasnamakan dogma
Berdasarkan penjelasan singkat ini, maka jelaslah bahwa apa yang kaum Islamis di Indonesia klaim sebagai pendirian negara berbasis Islam, pada praktiknya adalah berdasar "Islamisme” ini. Islam sebagai sebuah agama tidak pernah mengatur tentang bentuk, sistem, dan mekanisme politik-pemerintahan dan ketatanegaraan. Tidak ada juklak dan juknis yang baku dan terang-benderang tentang hal ini di dalam agama Islam.
Jika disimak dengan seksama, Al-Qur'an dan Hadis juga hanya memuat tentang etika, norma, moralitas, tata-nilai, dan tanggung jawab sebuah "pemimpin politik”, bukan desain sistem politik-pemerintahan. Islam hanya menanamkan tentang pentingnya keadilan, keamanan, ketenteraman, kedamaian, dan kemakmuran sebuah masyarakat tidak peduli mereka tinggal dan hidup dalam sistem monarkhi, demokrasi, teokrasi, teodemokrasi, republik, komunisme, sosialisme, dlsb. Dengan kata lain, Islam hanya mewacanakan tentang "substansi” atau "isi” bukan "bungkus” dan "kulit permukaan”.
Dalam sejarahnya, Islamisme tidak menjamin sebuah negara, kawasan, dan masyarakat didalamnya menjadi adil-makmur hidup sejahtera aman tenteram dan sentosa. Sebaliknya, dalam bingkai Islamisme, negara justru tenggelam dalam keterpurukan dan ketidakadilan. Masyarakat hidup mencekam dalam ketakutan dan kebiadaban karena diteror oleh kaki-tangan rezim Islamis yang mengatasnamakan dogma dan Tuhan.
Salah satu contoh nyata dari sebuah negara di bawah Islamisme ini adalah Afganistan di zaman rezim Taliban, 1996–2001. Di bawah kendali Mullah Mohammed Omar dan Mullah Mohammad Rabbani Akhund, Afganistan yang waktu itu bernama Emirat Islam Afganistan, bukannya maju pesat dan menjadi masyarakat berperadaban malah hancur-lebur berkeping-keping untuk kesekian kalinya (simak buku cemerlang karya Thomas Barfield, Afghanistan: A Cultural and Political History).
Jadi, "Negara Islam” (atau "Negara Khilafah Islam”) yang dikampanyekan dan dipropagandakan oleh sejumlah kalangan Islamis di Indonesia yang menjanjikan adanya kemakmuran, keadilan, ketenteraman, kedamaian, dlsb hanyalah "pepesan kosong” dan "janji-janji surga” belaka.
Klaim kaum Islamis bahwa "Negara Pancasila” sebagai sebuah konsep politik-pemerintahan dan ketatanegaraan yang tidak Islami dan jauh dari norma-norma dan nilai-nilai keislaman juga sebuah propaganda semata untuk menarik simpati masyarakat awam yang buta wawasan keislaman dan sejarah Islam politik dan politik Islam.
Pancasila sudah sangat Islami
Sebagai sebuah filosofi, fondasi kebangsaan, dan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila sudah sangat Islami dan Qur'ani karena kelima silanya berbasis pada (dan mendapat rujukan kuat dalam) ayat-ayat Al-Qur'an dan praktik kenabian. Jika Pancasila tidak sesuai dengan Islam dan Al-Qur'an, tentu saja para tokoh Muslim dan pendiri bangsa yang terlibat merumuskan Dasar Negara Republik Indonesia ini tidak akan menyetujui dan merestuinya. Itulah sebabnya para ulama NU berpengaruh seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Wachid Hasyim, KH Ahmad Siddiq, KH As'ad Syamsul Arifin, dlsb dengan lantang membela dan mempertahankan Pancasila dari rongrongan kelompok anti-Pancasila.
Pancasila juga dinilai sangat tepat untuk bangsa dan negara Indonesia karena watak dan karakternya yang sangat merangkul semua agama, golongan, etnis, suku, dan ras yang sangat majemuk di Tanah Air tercinta ini. Pancasila juga dinilai paling pas dan tepat karena ia merupakan produk atau hasil kesepakatan bersama para Bapak Pendiri Bangsa yang tentunya bukan hanya kaum Muslim saja. Para founding fathers seperti Sukarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, KH Abdul Wachid Hasyim, Agus Salim, Alexander Andries Maramis, Ahmad Soebardjo, Ki Hadikusumo, dlsb, adalah para pendiri bangsa yang sudah dengan susah payah merumuskan Pancasila sebagai fondasi kenegaraan-kebangsaan Republik Indonesia. Sebagai sebuah ideologi negara dan fondasi kebangsaan, Pancasila sudah final. 
Kini, tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia—apapun agama dan etnis kita—untuk merawat, menjaga, memelihara, membela, sekaligus mengimplementiskan nilai-nilai ideal Pancasila dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, bukan malah bersikeras untuk mendongkel dan menggantinya dengan ideologi-ideologi baru yang tidak jelas.
Akhirul kalam, bagiku, demi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang lebih baik di masa mendatang: Pancasila Yes, Islamisme No.   


Kurma

Ditulis oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY

Anda tahu kurma? Ya jelas tahu dong, masak nggak sih? Anda pernah makan kurma? Pasti sudah ya, masak belum sih? Tahukah Anda kalau kurma itu bukan hanya ada di Saudi dan memang asal-usulnya bukan dari kawasan yang sekarang bernama Saudi? Kalau pertanyaan yang terakhir ini, saya agak ragu kalau Anda sudah tahu atau belum. Tapi karena ini bulan puasa, saya berprasangka baik aja deh kepada kalian he he.
Kurma (Inggris: date, Arab: tamr) asal-usulnya dari Mesopotamia (kini Irak) dan Lembah Indus. Dari kawasan ini kemudian tersebar ke berbagai wilayah Timur Tengah. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa kurma telah ada sejak beribu-ribu tahun Sebelum Masehi di zaman kuno peradaban Mesopotamia maupun prasejarah Mesir. Bukan hanya menjadi makanan pokok masyarakat Timur Tengah, kurma juga diolah menjadi anggur. Selain Timur Tengah, kurma juga ditemukan di kawasan Mehrgerh di Pakistan dan area Lembah Indus lain.
Dari Timur Tengah, kemudian kurma diperkenalkan oleh para pengelana, pedagang, dan masyarakat nomad ke berbagai kawasan di dunia termasuk Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Latin.
Kini, Kurma telah menyebar hampir merata di kawasan Arab dan Timur Tengah: Saudi, Irak, Iran, Aljazair, Libya, Mesir, Sudan, Maroko, Emirates, Tunisia, Oman, Israel, Yordania, Yaman, Turki, dslb. Masing-masing negara membanggakan jenis kurma di negaranya sebagai yang paling enak, paling lezat, dan paling aduhai.
Orang Aljazair misalnya membanggakan kurma iteema, orang Tunisia bilang kurma kenta yang paling yahud, warga Arab Emirates bilang kurma lulu atau khenaizi yang paling lezat, kata orang Libya kurma abil yang paling oke, sementara orang Sudan menyebut kurma barakawi yang paling oye. Jika orang Oman bilang kurma fard yang paling hebring, warga Maroko bilang kurma majdul yang paling uueenaakk.
Bukan hanya antar-negara saja, antar-daerah di sebuah negara juga saling berlomba adu-keenakan. Di Saudi, ada banyak sekali jenis kurma: sukkari, rotab, ajwah, khunaizi, khalasah, dlsb, yang masing-masing menjadi kebanggaan daerah penghasil kurma itu. Orang Qassim menyebut sukkari yang paling oke, sementara orang Madinah menyebut kurma ajwah yang paling top. Nah, kurma ajwah inilah yang disebut dalam hadis Nabi Muhammad.
Negara produser kurma terbesar adalah Mesir, kemudian disusul Iran, lalu Saudi, Irak, Pakistan, Uni Emirat Arab, Aljazair, Sudan, Oman, dlsb. Jadi, meskipun bukan Saudi sebagai produser kurma terbesar, banyak orang masih menganggap bahwa Saudi-lah sebagai "pusat kurma" di dunia ini.
Kemarin, saat saya hendak berbuka di sebuah warung di Singapura, terjadilah dialog singkat antara penjual (P) dan saya (S).
P: "Sudah buka puasa, kah?"
S: "Ini saya mau buka puasa, Pak", jawabku. Mungkin karena melihat tampangku yang Melayu jadi asumsinya Muslim dan kalau Muslim ya berarti puasa he he.
P: Kalau begitu, silakan makan kurma ini dulu Pak. Ini kurma asli dari Arab Pak. Sunah rasul kalau makan tuh kurma.
S: Arab mana Pak?
P: Ya Arab Saudi. Mana Lagi? Kurma kan hanya ada di Makah dan Madinah sebagai warisan dari Nabi Muhammad untuk umat Islam.
S: Oo begitu ya Pak. Terima kasih Pak atas penjelasannya. Saya mau makan dulu ya Pak. Nyem nyem nyem...

Wednesday, 14 June 2017

Jilbab Kristen Arab Lebanon

Ditulis Oleh : SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10157442204770523

Saya sering mengelus dada atau geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah-polah lucu-lucu sejumlah kaum Muslim dan Muslimah di Indonesia, khususnya mereka yang semangat keislamannya terlalu tinggi tetapi tidak diiringi dengan wawasan sejarah-sosial-kultural-keagamaan yang memadai.
Karena "besar pasak daripada tiang", akibatnya sering kali "menggelikan" alias "unyu-unyu" kalau berkomentar. Misalnya, mereka bilang kalau hijab itu hanyalah "properti Islam" saja karena itu jika ada non-Muslimah yang berhijab dianggap sebagai pelecehan terhadap Islam, penghinaan terhadap ajaran Al-Qur'an, atau penghinaan terhadap kaum Muslim. Wong pakai hijab kok dianggap menghina itu rumusnya apa?
Bukan hanya itu, berhijab juga dipandang sebagai simbol "hijrah keimanan" dari non-Muslimah menjadi Muslimah, dari "kebengkokan" menuju "kelurusan". Mereka juga bialng kaum perempuan, khususnya Muslimah, kalau sudah berhijab berarti sudah mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Tuhan. Perempuan berhijab pulalah, kata mereka, kelak yang akan merasakan aroma surga yang aduhai rasanya.
Begini ya, soal hidayah, keimanan, keislaman, apalagi surga itu tidak ada urusannya dengan selembar kain bernama hijab atau apapun namanya. Hijab, seperti yang sudah sering saya sampaikan, juga bukan melulu milik Islam. Jauh sebelum Islam lahir di Jazirah Arab, umat Yahudi dan Kristen sudah mempraktekkan hijab, sebuah tradisi yang masih dipraktekkan hingga kini oleh sebagian saudara-saudara seiman kita dari Kristen dan Yahudi. Jadi tidak perlu "main klaim" kalau hijab itu milik Islam, nanti malah malu-maluin kelihatan kalau otaknya masih orisinal.
Di bawah ini hanyalah contoh kecil sekelompok perempuan Kristen Maronite di Lebanon, yang seperti kaum Muslimah, juga berhijab. Seperti di Indonesia, tidak semua perempuan Kristen di Lebanon berhijab. Tetapi tidak seperti Muslimah Indonesia yang minim Bahasa Arab, para perempuan Kristen Lebanon berbahasa Arab karena memang itu bahasa nenek-moyang mereka. Bahasa Arab mereka tentu saja jauh lebih fasih ketimbang kaum Muslimah Indonesia yang suka berabi-umi atau berakhi-ukhti itu.
Di Temur Tengah, selain Mesir dan Suriah, Lebanon adalah kawasan yang cukup padat penduduk Kristennya. Sekitar 40% penduduk Lebanon adalah Kristen (mayoritas pengikut Kristen Maronite, kemudian Katolik Roma, terus Kristen Ortodoks Timur, dlsb). Karena itu di Lebanon, banyak tokoh Kristen menempati posisi penting dan strategis di struktur pemerintah, parlemen, maupun jabatan publik lain, berdampingan dengan Syiah dan Sunni.
Sejarah Kristen di Lebanon sudah sangat tua, setua lahirnya agama Kristen sendiri. Konon Yesus pernah singgah di kota Tyre (Sur atau Sour) di bagian selatan Lebanon, dimana Dia menyembuhkan sejumlah anak-anak Canaan. Kemudian, Santo Peter juga konon pernah berdakwah di kawasan ini. Pendakwah paling melegenda tentu saja adalah Santo Maron di abad ke-4 M, seorang pendeta Kristen Suriah, yang menyebarkan iman Kristen di Lebanon. Nama Kristen Maronite yang menjadi mayoritas umat Kristen di Lebanon saat ini adalah diambil dari namanya.
Jadi, sudah paham belum bapak-ibu, sodare-sodare...

Masjid Canton dan Sejarah Islam di China

Ditulis Oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10157943211350523

Ini melanjutkan “kuliah virtual” tentang sejarah dan perkembangan Islam di China (Tiongkok). China bukan hanya rumah bagi pemeluk Konghucu, Taoisme, Budha, atau pengikut non-teis dan ateis, tetapi juga umat Islam. Menurut data yang dirilis oleh Yang Zongde pada tahun 2010 dalam karyanya, Study on Current Muslim Population in China, ada sekitar 23 juta kaum Muslim di China atau sekitar 1,7% dari total penduduk. Dengan begitu, jumlah umat Islam di China jauh lebih besar ketimbang kaum Muslim di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania, Palestina, dlsb. Arab Saudi saja sebagai negara paling luas dan gemuk di kawasan Arab Teluk hanya berpenduduk sekitar 30 juta.
Mayoritas Muslim di China beretnik Hui, kemudian Uyghur yang merupakan campuran etnik Turki yang mendiami kawasan Asia Tengah dan Timur. Xinjiang adalah kawasan Muslim terpadat di China, disusul Ningxia, Gansu, dan Qinghai. Sebagian besar penduduk Muslim China beraliran Sunni, meskipun pengikut Syiah juga lumayan banyak. Menariknya, tidak ada catatan tentang konflik Sunni-Shiah di China.
Perlu diketahui, usia Islam di China jauh lebih tua ketimbang Islam di “Indonesia”. Para sejarawan ahli China Islam seperti Dru Gladney, Marshall Broomhall, C. Sell, Muhammad Fu, Ibrahim Tien Yin Ma, dlsb, mencatat Islam sudah masuk ke China sejak awal perkembangan Islam itu sendiri. Para sahabat Nabi Muhammad sendirilah yang mula-mula memperkenalkan Islam ke China. Diantara para sahabat Nabi yang memperkenalkan Islam di China adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Hassan bin Tsabit, Suhaila Abu Arja, Wahab bin Abu Kabsyah, dan Uwais al-Qarani. Mereka mencapai China ada yang melalui “jalur maritim” atau daratan (dikenal dengan Silk Road atau “Jalur Sutera”). Ada para sahabat Nabi yang bahkan “kombak-kambek” alias bolak-balik ke China baik urusan perdagangan maupun dakwah.
Di antara sekian sahabat Nabi yang memperkenalkan Islam di China, Sa’ad bin Abi Waqqash-lah yang paling senior dan terkenal. Konon beliau adalah paman Nabi Muhammad dan pemeluk Islam yang ke-17. Beliau juga pernah menjadi Gubernur Basrah. Beliau dipercaya wafat di Guangzhou, China, dan makamnya hingga kini masih ramai diziarahi kaum Muslim.
Sa’ad bin Abi Waqqash jugalah yang diutus secara resmi oleh Khalifah Usman bin Affan untuk menemui Kaisar Gaozong guna menjalin “hubungan diplomatik” dengan Dinasti Tang. Untuk mempererat persahabatan dengan Arab dan Islam sekaligus untuk mengenang Nabi Muhammad, Kaisar Gaozong kemudian menginstruksikan pembangunan masjid di Canton yang bernama Masjid Huaisheng atau populer dengan sebutan Masjid Raya Canton yang dibangun tahun 627 (seperti dalam foto di bawah ini). Oleh sejarawan, masjid ini dianggap sebagai masjid tertua di dunia setelah Masjid Haram di Makah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Setelah jejak-jejak Islam di China disemai oleh para sahabat, kelak tradisi hubungan persahabatan Islam dan China ini dilanjutkan oleh Daulah Ummayah dan Daulah Abbasiyah serta rezim-rezim Islam berikutnya. Di China pun, hubungan baik dengan Islam terus berlanjut paska tumbangnya Dinasti Tang. Kelak, Islam di China mengalami puncak kejayaan di masa Dinasti Yuan dan kemudian Dinasti Ming (bersambung).

Tuesday, 13 June 2017

Umat Islam Tidak Akan Pernah Masuk Surga

Ditulis Oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158786489270523?pnref=story



Banyak umat Islam di Indonesia yang sibuk membicarakan surga dan dengan pedenya akan masuk surga kelak di alam akhirat. Tetapi mereka mungkin lupa atau memang tidak tahu bahwa konsep surga itu sesungguhnya berasal dari tradisi Hindu (atau Buddhisme dan Jainisme) di India.
Seharusnya umat Hindu atau Budha yang sering-sering membahas konsep surga ini supaya lebih akurat maknanya. Bukan umat Islam. Eh, malah (sebagian) umat Islam menganggap kaum Hindu dan Budha tidak masuk surga. Kepriben sih rika? Wong mereka yang punya surga kok malah dianggap nggak bakalan masuk surga. Justru umat Islam yang nggak akan masuk surga he he.
Begini ceritanya...
Dalam kosmologi Hindu, ada delapan "loka" atau "dunia", dan salah satunya adalah "swarga loka" atau biasa disingkat "swarga" atau "svarga" (dalam Bahasa Sanskrit). Swarga ini adalah tempat atau "alam transisi" para "roh baik" dari orang-orang yang berbuat baik selama hidup di dunia. Roh-roh baik ini ditempatkan di swarga karena belum siap untuk "mokhsa", yaitu sebuah proses pembebasan diri dari "samsara" atau belum siap untuk diangkat / menuju Vaikunta.
Jadi, secara konseptual, konsep swarga dalam umat Hindu itu jelas berbeda dengan konsep "surga" yang dipahami oleh umat Islam Indonesia. Konsep surga di kalangan Muslim Indonesia itu merupakan terjemahan dari kata Arab (Al-Qur'an) "jannah" (yang berarti kurang lebih sama dengan kebun atau taman).
Penerjemahan kata "jannah" menjadi "surga" saya kira kurang tepat. Sama tidak tepatnya dengan penerjemahan kata "auliya" dengan "pemimpin pemerintahan" karena kata yang tepat untuk "pemimpin pemerintahan" itu "wulah", bukan "auliya".
===================================================
ORDER NOW!!!
Professional customlogo design and web design services by LogoBee.com
Save $20 from any logo design package or $50 from any web design solution by entering this coupon number: 4284
===================================================
Di kalangan umat Islam di India dan Pakistan sendiri, mereka tidak menerjemahkan kata "jannah" menjadi "surga" karena mereka tahu kalau kata "swarga" itu "sangat Hindu" dan karenanya tidak tepat untuk dijadikan sebagai pengganti kata "jannah". Mereka menerjemahkan kata "jannah" dengan "jannat" bukan "swarga/svarga".
Oleh karena itu saya kira tidak benar kalau Zakir Naik bilang "umat Islam akan masuk surga" karena ia pasti anti-Hindu dan konsep-konsepnya (termasuk "surga" ini). Bagi Zakir Naik, tentu saja umat Islam (yang sepaham dengannya) akan masuk "jannat" bukan surga". Kalau Zakir Naik tahu bahwa omongannya "disalahartikan", pasti ia marah: acha acha, nehi nehi he he.
Jadi, dari pada ribut ngomongin "surga" yang kalian sendiri tidak paham asal-usulnya (sama seperti orang Arab Muslim ori juga nggak bakalan tahu dan paham kata "surga" ini he he), mungkin akan lebih baik kalau kalian ngomongin "jannah" atau "kebun" saja he he. Mari kita rajin berjannah atau berkebun, supaya pisangnya semakin tumbuh subur laksana pisang ambon yang aduhai gedenya he he

Monday, 12 June 2017

Surga Itu Ajaran Hindu (2)

Oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
Sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158494227300523

Seperti saya katakan pada "kuliah virtual" sebelumnya, kata "surga-neraka" dalam Bahasa Indonesia (yang merupakan terjemahan dari Bahasa Arab klasik dalam Al-Qur'an: "jannah" dan "nar") itu sebetulnya diadopsi dari Bahasa Sanskrit "svarga-naraka" yang merupakan salah satu dari sekian banyak konsep eskatologi-kegamaan dalam agama-agama India kuno, khususnya Hindu (Hinduisme) tetapi juga Jain (Jainisme) dan Budha (Budhisme).
Menarik untuk dicatat, dalam tradisi Hindu, Budha, dan Jain juga mengenal kata "jhana" (dalam Bahasa Pali) atau "dhyana" (Sanskrit) tetapi artinya sejenis meditasi untuk olah rasa dan pikiran supaya hati dan pikiran menjadi tenang dan damai. Ini tentu berbeda dengan kata "jannah" dalam Bahasa Arab klasik (fushah) yang merupakan metafor dari "taman luas yang indah dan aduhai".
Karena penasaran, saya cek terjemahan kata "jannah" (Arab) dalam Bahasa Urdu, Hindi, dan Bangla atau Bengali ternyata kata "jannah" diartikan "jannat", bukan "svarga" atau "swarga" (Sanskrit). Hindi dan Urdu adalah dua bahasa nasional resmi negara India dan Pakistan yang merupakan rumpun bahasa Hindustani (Indo-Arya, yang juga rumpun Bahasa Bangla di Bangladesh) yang merupakan bahasa lingua franca yang dipakai di kawasan India Utara dan Pakistan.
Bahasa Hindustani ini adalah campuran bahasa Sanskrit, Persi, Arab, dan Chagatai (Bahasa Turki kuno yang banyak dipakai di daerah Asia Tengah). Jika Hindi lebih banyak diserap dari Sanskrit (dan Pali), maka Urdu banyak diambil dari Bahasa Persi dan Arab. Bahasa Sanskrit dan Pali sendiri sudah menjadi klasik dan hanya dipakai di acara ritual-ritual keagamaan. Nasib Bahasa Sanskrit dan Pali di India ini persis seperti Bahasa Arab klasik (fushah) di Tanah Arab.
Kenapa kata "jannah" (Arab) diartikan dengan "jannat" (dalam Hindi, Urdu, dan Bengali), bukan menjadi "svarga" (atau"swarga") atau "jhana" (dhyana)? Alasannya jelas: konsep eskatologi "jannah" dalam Islam itu beda dengan konsep "svarga" (swarga) atau "jhana" (dhyana) dalam tradisi Hindu, Budha, dan Jain. Menjadi menarik untuk ditelusuri dari mana kata "jannah" dalam Bahasa Arab klasik ini? Kenapa ada kemiripan dengan kata "jhana" dan "dhyana" dalam Bahasa Pali dan Sanskrit, meskipun makna dan penerapannya berbeda.
Oleh karena itu, menurutku sangat tidak tepat mengartikan atau menerjemahkan "jannah" dalam Al-Qur'an menjadi "surga" dalam Bahasa Indonesia. Ketidaktepatan itu karena pemahamn kata "svarga" dalam tradisi Hindu khususnya itu mengacu pada "tempat atau dunia transisi atau persinggahan sementara sebelum mencapai moksa atau mokhsa". Sementara dalam Islam, kata "jannah" itu seperti "sebuah taman rindang sebagai tempat ngumpul akhir umat manusia yang baik".
Dalam Bahasa Arab, ada sejumlah kata yang dipakai untuk menerangkan taman atau kebun ini yaitu: jannah (dengan "ta marbutah"), jannah (dengan "ha"), bustan, dan hadziqah. Kata "jannah" dengan "ta marbutah" sudah tidak dipakai lagi penggunaannya untuk mendiskripsikan "taman/kebun" dalam masyarakat Arab kontemporer.
Apakah hanya Islam saja yang punya konsep semacam "surga"? Jelas tidak. Ada banyak peradaban manusia di jagat raya ini yang mempunyai konsep semacam "surga" ini tentu saja dengan nama yang berbeda-beda. Selain Islam, Kristen dan Yahudi yang sudah populer, konsep semacam "surga" juga dikenal di masyarakat Mesir Kuno (namanya "Aaru"), masyarakat Norse di Jerman Kuno (namanya "Andlang"), masyarakat Malaynisia Fiji (namanya "Buroto"), masyarakat Yunani Kuno (namanya "Empyrean"), masyarakat Filipina Kuno ("Kaluwalhatian"), masyarakat Irlandia Kuno (namanya "Mag Mell"), Suku-suku Mizo di India Utara (namanya "Pialral"), dlsb (bersambung).

Baca juga : 

Surga-Neraka Itu Ajaran Hindu


Sunat: antara Agama dan Budaya

Oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
sumber : https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10158450812690523


Apakah asal-usul tradisi khitan atau sunat pada laki-laki itu merupakan “ajaran agama” atau hanya sebuah “praktek kebudayaan” biasa saja yang tidak ada sangkut-pautnya dengan nilai-nilai, dogma, dan ajaran keagamaan?
Pertanyaan ini sangat pelik karena dalam sejarahnya, ada banyak nilai-nilai budaya yang kemudian diserap menjadi norma-norma keagamaan. Begitu pula, ada ajaran-ajaran agama yang kemudian diadopsi oleh masyarakat yang kemudian menjadi sebuah kebudayaan. Dengan kata lain, ada budaya yang diagamakan. Ada pula agama yang dibudayakan.
Dalam perspektif sosiologi dan antropologi, pertanyaan ini menjadi tidak relevan karena agama dipahami sebagai "fakta atau fenomena sosial" kebudayaan umat manusia.
Yang saya maksud dengan "khitan" disini bukan kelompok suku nomadik dari Mongol atau Manchuria yang pernah berjaya di masa lampau, melainkan tradisi sunat atau memotong “surplus” kulit yang menutupi kepala penis atau “tongkol” kaum lelaki.
Menarik untuk dicatat, menurut data dari WHO tahun 2007, sekitar sepertiga dari penduduk dunia (yang laki-laki) itu sunat. Menurut WHO, praktek sunat ini sangat umum dijumpai di Israel, Amerika Serikat, dan sebagian kawasan Asia dan Afrika. Sementara Amerika Latin, Eropa, Afrika bagian selatan, dan sebagian kawasan di Asia, praktek khitan ini tidak lazim.
Penting juga untuk diketahui, yang mempraktekkan tradisi sunat ini bukan hanya kelompok agama tetapi juga komunitas non-agama. Khusus untuk “masyarakat agama”, tradisi sunat ini dipraktekkan oleh kaum Yahudi, Muslim, Kristen Koptik, dan juga Gereja Ortodoks Etiopia (lihat di “Circumcision”, Columbia Encyclopedia, Columbia University Press, 2011).
Dengan demikian, bukan hanya Muslim saja yang mempraktekkan tradisi sunat ini, seperti umumnya dipahami oleh masyarakat Islam di Indonesia. Sejumlah masyarakat suku yang tidak memiliki afiliasi dengan agama-agama besar Timur Tengah (seperti suku Aztec dan Maya) juga mempraktekkan sunat. Ada yang mempraktekkan sunat sejak bayi, anak-anak, atau bahkan remaja.
Berdasarkan kajian-kajian antropologi dan kesejarahan, asal-usul dan motivasi sunat ini sangat beragam dari satu masyarakat ke masyarakat lain: ada yang sebagai penanda identitas etnik dan suku, medium pelemahan musuh yang tertangkap, penanda perbudakan, pembeda dengan golongan dan kelas sosial lain, "rite of passage" atau ritus menuju "kedewasaan", "pengorbanan darah", mekanisme untuk hidup sehat, sampai sebagai bentuk perjanjian dengan Tuhan.
***
Meski bukti-bukti ilmiah sulit didapat, yang jelas sejarah sunat ini sudah sangat tua yang menurut sejarawan Grafton Elliot Smith konon sudah lebih dari 15,000 tahun lalu dipraktekan oleh berbagai kelompok suku dan masyarakat di berbagai belahan dunia. Ada pula yang menyebut tradisi sunat ini bermula di masyarat Mesir Kuno yang kemudian menyebar ke seantero Timur Tengah.
Dalam buku "Sejarah Sunat" (History of Circumcision) yang ditulis oleh Peter Charles Remondino disebutkan praktek khitan ini dibagi menjadi dua bagian besar: di kawasan Oceania, tradisi khitan ini awalnya dipraktekkan oleh suku Aborigin Australia dan Polinesia. Konon di benua Amerika, praktek khitan sudah dilakukan oleh suku Aztec dan Maya. Masyarakat di kawasan Jazirah Arab semula tidak mengenal tradisi khitan ini. Tradisi tertua tentang praktek sunat di kawasan Jazirah Arab dimulai pada abad ke-4 SM. Bangsa Sumeria dan Bangsa Semit-lah yang memperkenalkannya.
Sementara itu di kawasan Mediterranean, tradisi sunat ini dimulai di Sudan dan Ethiopia, kemudian dilanjutkan oleh masyarakat Mesir kuno dan bangsa Semit. Dari Bangsa Semit inilah kemudian diadopsi oleh "suku" Yahudi kuno (disebut "Israelite), dan dari komunitas Yahudi inilah, kemudian tradisi sunat diadopsi oleh umat Islam melalui interaksi Nabi Muhammad dan kaum Muslim awal dengan suku-suku Arab-Yahudi yang banyak dijumpai di Madinah dulu.
Jika kita kaji secara seksama, memang banyak sekali ajaran, tradisi, dan kebudayaan Yahudi yang kemudian diserap oleh Islam, termasuk sunat ini. Sudah cukup banyak karya-karya akdemik yang mengulas tentang "aspek-aspek Judaisme" ("ke-Yahudi-an") dalam Islam ini. Dalam kitab Yahudi disebutkan dengan jelas bahwa Abraham (atau Ibrahim dalam Islam) beserta keluarga dan budak-budaknya telah mempraktekkan sunat.
Tidak sebatas itu, perintah sunat juga diamanatkan bagi keturunan Ibrahim sebagai penanda "perjanjian ketaatan dengan Tuhan". Jadi, dalam konteks Yahudi, sunat ini sangat relijius. Di kemudian hari, seperti dijelaskan oleh sejumlah ahli kajian sejarah Bible dan Israelite seperti Norman Gottwald, sunat ini bukan hanya untuk memenuhi "panggilan Bibel" tetapi juga sebagai penanda penuh identitas ke-Yahudi-an.
Nah, sekarang sudah jelas kan bahwa tradisi sunat itu sangat warna-warni dan dipraktekkan oleh beragam suku-bangsa dengan beragam motif pula. Karena itu tidak perlu saling mengklaim dan “eyel-eyelan” sebagai "pemilik sah" ajaran/tradisi sunat ini.
Jabal Dhahran, Arabia

OPINI: Dialog, Bukan Debat Kristen-Muslim

Oleh : PROF. SUMANTO AL QURTUBY
sumber : http://news.liputan6.com/read/2923215/opini-dialog-bukan-debat-kristen-muslim?source=search


Liputan6.com, Jakarta - Belakangan masyarakat Indonesia ramai dan hiruk-pikuk membicarakan metode debat ala Zakir Naik, seorang dokter bedah dari India yang menjadi juru dakwah atau "evangelis Muslim" populer.

Oleh sebagian masyarakat Islam di Indonesia, Zakir Naik, yang di negaranya India menjadi buron pemerintah karena dugaan keterlibatannya (baik langsung maupun tidak langsung) dalam berbagai kasus intoleransi, kekerasan, dan terorisme sehingga ceramah-ceramahnya dicekal, dinilai sukses mengalahkan rival-rivalnya terutama Kristen tetapi juga Muslim non-Salafi.

Di India sendiri, tradisi debat publik antar-tokoh agama bukanlah hal baru, baik antara tokoh Muslim dan Kristen maupun antar-tokoh Muslim sendiri yang berbeda mazhab, organisasi, dan haluan pemikiran.
Zakir Naik hanyalah melanjutkan tradisi debat yang sudah lama mengakar di India maupun di kawasan Islam pada umumnya.

Selain Zakir Naik, tokoh Muslim populer lain yang menggunakan metode debat dalam berdakwah adalah Ahmed Deedat (1918-2005), seorang misionaris Muslim yang juga kelahiran India (Gujarat) tetapi menetap di Afrika Selatan, yang oleh Zakir Naik dianggap sebagai gurunya.

Dedaat adalah pendiri International Islamic Missionary Organization. Sama seperti Zakir Naik, Ahmed Deedat juga gemar berdakwah dengan "menguliti" Kristen (umatnya, ajarannya, kitab suci-nya, maupun sistem teologinya).

Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia sendiri, metode debat pernah menjadi "tren" sejumlah tokoh Muslim, tetapi bukan dalam konteks berdebat dengan tokoh-tokoh Kristen, melainkan dengan sesama Muslim yang berbeda ormas keislaman dan pandangan keagamaan.

Debat yang cukup populer misalnya antara KH Abdul Wahab Chasbullah (salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) dengan Syaikh Ahmad Surkati (pendiri Jam'iyyah al-Islah wa al-Irsyad wa al-Islamiyah atau dikenal dengan al-Irsyad saja) atau Ahmad Hassan (pendiri Persatuan Islam) mengenai berbagai topik atau masalah pemikiran dan wacana keislaman.

Apakah metode debat hanya dilakukan oleh para tokoh Muslim saja? Tentu saja tidak. Kristen juga punya banyak tokoh misionaris-evangelis populer, baik yang suka debat maupun tidak, yang memukau banyak orang.

Sebut saja Joel Osteen, Billy Graham, T.D. Jakes, Ted Haggard, Franklin Graham, Rick Warren, Ian Paisley, dsb. Islam dan Kristen memang dua agama misionaris-dakwah yang kuat. Karakteristik kedua agama dari rumpun Semit ini berbeda dengan agama-agama lain yang tidak begitu kuat "doktrin misionarismenya".

Dulu, di Jawa (dulu belum ada "Negara Indonesa"), umat Kristen juga punya penginjil dan tokoh misionaris ahli debat yang bernama Radin Abbas, yang populer dengan sebutan Kiai Sadrach (1835-1924) dari Jawa Tengah.

Ia adalah murid Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang juga seorang pendeta Kristen dan penginjil populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur di abad ke-19. Dulu, sebutan "kiai" disematkan kepada siapa saja (atau apa saja) yang dianggap memiliki keahlian, kelebihan, kesaktian, kharisma, dan keramat.
Dalam menggalang pengikut Kristen, Kiai Sadrach menggunakan metode debat publik yang bisa berlangsung berhari-hari. Selain sebagai penginjil ulung, Kiai Sadrach dan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung adalah tokoh-tokoh anti kolonialisme Balanda.
***

Meskipun tentu saja tidak ada masalah menggunakan metode debat, dan memang Islam juga dalam batas tertentu menggarisbawahi tentang metode debat yang baik dengan argumen, logika, dan retorika untuk "menundukkan" lawan.
Tetapi dalam konteks relasi antar-agama, khususnya Muslim-Kristen yang menjadi fokus tulisan ini, dialog adalah jalan terbaik untuk membangun hubungan harmonis dan toleran kedua kelompok agama ini.

Ada sejumlah perbedaan substansial antara debat dan dialog. Pertama, dalam debat yang dicari adalah kalah-menang. Sementara dalam tradisi dialog, tidak ada kalah-menang. Semuanya adalah "pemenang", karena setiap agama memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing, yang tidak bisa dihakimi oleh orang lain yang tidak pernah "mengalami sendiri dari dalam".

Dalam konteks dialog, juga tidak ada istilah "lawan" atau "musuh" yang perlu dikalahkan. Yang dianggap "lawan" dalam debat (baca, lawan debat) adalah "teman" dalam dialog (baca, teman dialog).
Karena tidak ada "lawan debat", melainkan "teman dialog", maka dalam tradisi dialog yang menjadi agenda atau fokus utama bukanlah "kalah-menang" melainkan bagaimana masing-masing bisa merasakan dan merayakan kemenangan.

Kedua, dalam metode debat yang selalu dicari adalah kekurangan dan kelemahan pihak lawan, untuk kemudian diserang dengan gigih supaya kalah. Pendebat itu seperti petinju yang selalu mencari kekurangan dan kelemahan lawan. Maka, begitu ia mengetahui "titik lemah" di bagian tubuh rivalnya, maka ia akan terus menyerang dan meninju bagian tubuh yang lemah itu untuk melumpuhkan lawan.
Sebaliknya, dalam dialog, yang menjadi fokus utama adalah kelebihan dan kekuatan masing-masing pihak yang bisa dijadikan sebagai medium untuk membangun kerja sama produktif-kreatif di masa depan.

Ketiga, dalam tradisi debat, masing-masing pihak konsentrasi pada "perbedaan", bukan pada "persamaan" sebagaimana dalam dialog. Kalaupun membahas sejumlah perbedaan (doktrin, ajaran, teks, wacana, simbol, ritual, maupun tradisi keagamaan), maka itu dilakukan dalam rangka untuk mencari "makna dan pemahaman otentik dari dalam" (dari masing-masing agama), sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Dengan kata lain, perbedaan dalam konteks dialog dijadikan sebagai "medium belajar" untuk saling-memahami masing-masing agama.

Hal ini tentu saja berbeda dengan debat, di mana perbedaan itu justru dijadikan sebagai bahan olok-olok untuk menunjukkan kedangkalan dan kelemahan agama lain di satu sisi serta supremasi, kehebatan, dan keunggulan agamanya sendiri di pihak lain.

Selanjutnya, dalam tradisi dialog, ketimbang memperuncing perbedaan seperti dalam debat, masing-masing pihak mencari persamaan masing-masing agama yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun "common ground" yang positif-konstruktif, yang didasari pada spirit saling menghargai dan menghormati masing-masing agama.

Pencarian dan penekanan pada "persamaan" itu dalam rangka untuk mewujudkan persatuan, bukan perpecahan antaragama.

Kempat, dalam dialog, ada komitmen bersama yang tulus dari masing-masing pihak untuk membangun hubungan antaragama yang dinamis, dan menyehatkan tanpa melukai masing-masing pihak itu. Komitmen semacam ini tidak ada dalam tradisi debat karena energinya terkuras untuk melumpuhkan dan mempermalukan lawan.

Kelima, tradisi dialog bertumpu pada kerendahatian dan "relativisme". Sedangkan dalam debat ada semacam keangkuhan dan persepsi tentang "kemutlakan" agamanya sendiri. Klaim tentang agamanya sendiri yang paling benar, serta tidak ada kebenaran dalam agama-agama lain merupakan salah satu ciri utama tradisi debat.

Sementara itu, dalam tradisi dialog, meskipun masing-masing mengakui kebenaran agamanya tetapi juga mengakui dan menghargai pendapat pengikut agama lain, yang mengakui kebenaran agamanya, sehingga timbul sikap terbuka atau inklusif (open minded), bukan tertutup dan eksklusif.
***
Ada cukup banyak karya akademik yang membahas tentang pentingnya dialog agama ini. Antara lain, Muslims, Chrisians, and the Challenge of Interfaith Dialogue, karya Jane I. Smith.
Sarjana dan praktisi dialog agama kenamaan, Leonard Swidler juga pernah menulis buku bagus berjudul Trialogue: Jews, Christians, and Muslims in Dialogue.

Profesor Mahmoud Ayoub yang ahli di bidang kajian Islam, Al-Qur’an, dan perbandingan agama juga pernah menulis buku yang sangat simpatik dan mendapat respons positif dari publik Kristen dan Muslim berjudul A Muslim View of Christianity: Essays on Dialogue. Buku ini membahas berbagai isu keislaman-kekristenan dari perspektif "dialog" bukan "debat" agama, sangat kontras dengan apa yang didakwahkan oleh Zakir Naik.

Selain itu, juga cukup banyak karya yang memuat kasus-kasus real dan sukses tentang dialog Kristen-Muslim di berbagai negara, sehingga mampu mengubah dan mentransformasi hal-hal yang pada mulanya sangat negatif-destruktif, kemudian menjadi positif-konstruktif, dari keburukan menjadi kebaikan, dari perpecahan dan konflik menjadi persatuan dan harmoni, dari ketidakpercayaan menjadi kepercayaan (trust), dari lawan menjadi kawan. Begitu seterusnya.

Beberapa karya itu antara lain A Muslim and A Christian in Dialogue, buku hasil kolaborasi antara David Shenk, seorang sarjana, aktivis, dan tokoh Kristen Mennonite Amerika, dengan Badru Kateregga, seorang akademisi, praktisi, dan tokoh Muslim dari Uganda yang pernah menjadi Duta Besar Uganda untuk Arab Saudi.

Kemudian Christian-Muslim Dialog in Northern Nigeria, sebuah studi kasus kerja sama Kristen-Muslim yang sangat apik di Nigeria.

Juga tidak lupa buku Basudara Stories of Peace from Maluku: Working Together for Reconciliation. Buku yang diedit oleh Pdt. Jacky Manuputty, Zairin Salampessy, dan Ihsan Ali-Fauzi, semuanya para aktivis-praktisi perdamaian, berisi tentang kisah-kisah heroik tentang proses rekonsiliasi dan perdamaian Kristen-Muslim di Maluku.

Jadi, ketimbang berdebat, kenapa kita tidak memupuk dan menumbuhkembangkan dialog Kristen-Muslim saja? Dengan begitu kesalahpahaman semakin diminimalisir, sekaligus supaya tercipta kesalingpemahaman antara kedua kelompok agama ini.

Perang Melawan ISIS dan Terorisme

Penulis : PROF. SUMANTO AL QURTUBY Sumber :  http://news.liputan6.com/read/3004571/perang-melawan-isis-dan-terorisme?source=search Liput...